Opini  

Milad Kohati Yang ke-60, Tidak Ada Tumpeng Hari Ini

Oleh: Kaders.

 Kohati Bukan untuk Kohan, Kohati adalah Tiang Negara, Untuk Ummat dan Untuk Bangsa. 

Terbesit pertanyaan kenapa tidak ada perayaan. Barangkali ini adalah sinyal yang harus dibaca dengan jeli atau barangkali memang itulah perayaanya. Entah siapa yang menciptakan logika tolak ukur keberhasilan organisasi ada pada ke”cemara”an pengurus di hari perayaan dan prosesi potong tumpeng.

Kita lebih sering merayakan usianya daripada membicarakan kondisinya. ‎‎Alasannya sederhana: Organisasi harus terlihat harmonis, untuk menjadi contoh yang baik. Padahal kadang-kadang kondisi yang sebenarnya perlu ditunjukkan agar ada kesadaran untuk melakukan evaluasi dan menyusun proyeksi.

Sudah terlalu lama kita bertanya pada Kohati.

mengapa kader perempuan sedikit, mengapa pengurus Kohati yang aktif hanya sedikit, mengapa peserta LKK perempuan tidak banyak, mengapa tidak ada instruktur perempuan bahkan, mengapa kursi kepemimpinan KOHATI semakin sulit diminati.

‎Namun kita hampir tidak pernah bertanya *”apakah iklim organisasi yang ada hari ini memang memungkinkan semua itu tumbuh ?”* Jangan-jangan persoalannya justru ada pada lingkungan yang dibangun bersama.

‎Bukan taring Kohati yang tidak ada, bukan pengurus yang kurang antusias, bukan pula kapasitas kader perempuannya yang kurang. Persoalannya lebih sederhana: *iklimnya memang tidak mendukung*.

‎Status Semi Otonom.

‎Status semi-otonom yang selama ini dibanggakan sering kali terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia disebut sebagai kewenangan istimewa. Di sisi lain, banyak hal yang tidak terealisasikan bila kembali ke Meja Rahar. Ironisnya, bahkan ketika isu yang diperjuangkan berkaitan dengan kekerasan seksual sekalipun, belum tentu memperoleh perhatian yang sama dengan isu-isu yang diperjuangkan bidang lain.

Masalah yang terwariskan. 

‎Di tingkat Komisariat hingga Cabang, periode ke periode masalahnya masih sama. Sehingga ketika pertanyaan mengapa perkembangan Kohati berjalan lambat, barangkali yang perlu dipertanyakan bukan langkah Kohati melainkan apakah institusi telah sungguh-sungguh menciptakan ruang yang memungkinkan Kohati berkembang.

‎Lihat saja, perempuan yang sama, individu yang sama yang tergabung dalam HMI yang juga tergabung dalam BEM, UKM, HMJ, atau dalam Komunitas tertentu mereka jauh lebih leluasa terlibat dalam hal-hal strategis. Namun mengapa ketika kembali ke HMI, mereka menjadi orang yang jauh berbeda, seperti tidak siap, seperti tidak tau apa-apa, atau sepertnyai ada sesuatu yang membuat mereka enggan memperlihatkan kemampuan yang dimiliki.

‎Meminjam istilah salah seorang kader yang juga teman penulis, *”Apakah ada Virus dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam?”*

‎Jika orangnya sama tetapi hasilnya berbeda, mungkin persoalannya bukan pada orangnya (bukan pada kohatinya), tetapi pada lingkunganya. *Selama ini orang-orang selalu fokus untuk mengevaluasi Kohati, sementara lingkungan yang membentuk jarang sekali ikut dievaluasi*.

‎Dari komisariat sampai korkom. Dari cabang sampai badko. Dari badko sampai PB. Dari kader sampai alumni. Bahkan Badan Pengelola Latihan Perlu dievaluasi. Semuanya termasuk Kohati itu sendiri.

‎Ketika kader sedikit, yang ditanya Kohatinya. Ketika pengurus kurang aktif, Kohati ditanya. Ketika belum ada instruktur perempuan, Kohati ditanya. Ketika regenerasi tersendat, Kohati yang ditanya.

Jangan heran apabila suatu saat kursi Ketua Umum Kohati tidak lagi menjadi kursi yang diperebutkan.

‎Bukan karena Sumber Daya Manusianya tidak memumpuni. Bukan karena kader perempuannya habis. Melainkan karena *singgah sana itu perlahan berubah menjadi kursi pengabdian yang terbuka bagi siapa saja yang bersedia menghibahkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan ‘emosinya’ untuk tetap menjaga nyala api yang ‘seharusnya dijaga bersama’.*

Lebih menarik lagi melihat bagaimana agenda-agenda Kohati diperlakukan.

‎Berapa banyak Program Kerja Kohati yang harus mengantre demi mendahulukan agenda lain? Berapa banyak kohan yang hadir ketika Kohati mengadakan dialog publik? Apakah agenda Kohati Komisariat tidak terlalu penting untuk dihadiri kakanda pengurus lainya ? Seolah gagasan yang lahir dari forum Kohati tidak cukup penting untuk didengar seluruh kader.

Candaan yang membudaya.

‎Yang lebih menarik, kegiatan Kohati yang terbuka untuk umum masih sering dipandang sebagai kegiatan perempuan. Ada candaan bahwa kohan yang terlalu aktif mendukung agenda Kohati lebih baik memakai rok, hingga terbentuk budaya bahwa sebaiknya kohan tidak perlu ikut, hingga menjadi sesuatu yang terpisah antara agenda kohan dan agenda Kohati

‎Pertanyaannya sederhana. *Bagaimana kesetaraan gender bisa tercapai jika yang teredukasi hanya satu pihak? Bagaimana perspektif gender dapat tumbuh jika forum-forumnya hanya dipenuhi oleh orang yang sejak awal sudah sadar?

‎Dukungan terhadap Kohati juga sering direduksi menjadi urusan teknis. Ada yang merasa sudah mendukung karena membantu mengangkat kursi.

Kesetaraan lahir ketika agenda Kohati dipandang sama pentingnya dengan Kohan. Ketika forum Kohati dianggap sama berharganya dengan forum lain. Ketika gagasan KOHATI dianggap sama layaknya untuk didengar.

Hal serupa terjadi di tingkat alumni.

‎Ketika alumni ikut menyukseskan agenda KOHATI, masih ada yang memberi label “pakai rok”. Anehnya, ketika Musyawarah KOHATI berlangsung dan banyak pihak ikut campur, hal itu dianggap biasa. Tetapi ketika mendukung agenda proker, tiba-tiba menjadi persoalan. Logikanya sulit dipahami.

‎Perlakuan terhadap atribut organisasi.

‎Yang lebih sulit dipahami lagi adalah bagaimana simbol-simbol organisasi diperlakukan. Atribut organisasi selalu hadir dalam forum resmi. Tetapi di mana Mars Kohati ketika pelantikan? ‎Mengapa Mars Kohati begitu mudah ditemukan dalam Training Raya, tetapi sering menghilang dalam pelantikan ? Jika tolak ukurnya karena Training Raya memuat Latihan Khusus Kohati (LKK) maka mengapa tidak dengan agenda Pelantikan yang memuat Prosesi Sakral Pelantikan Pengurus Kohati. Ini hanya terjadi di sini, ya di wilayah kita, hanya di wilayah yang dengan berat hati harus diakui masih Patriarki. Sadarkah kalian, menyanyikan Mars Kohati pada acara pelantikan merupakan amanat Pasal 21 ayat 3 PDK yang mestinya wajib termaktub dalam agenda acara pelantikan.

‎Mengapa kader perempuan yang dilantik sering tidak diberi ruang yang cukup untuk menyampaikan gagasannya? Mengapa podium terasa lebih longgar untuk donatur dibanding untuk Ketua Umum Kohati.

‎Selama enam puluh tahun, Kohati tidak pernah meminta perlakuan istimewa, hanya membutuhkan perlakuan yang setara. Karena itu Milad ke-60 ini mungkin tidak membutuhkan tambahan tumpeng yang ke tiga kalinya. Tapi tidak ada yang salah bila nanti akan ada tumpeng, semua tergantung solidaritas Kohati masing-masing memperjuangkan tumpengnya. Karena belum tentu Tumpeng kali ini juga diperjuangkan seperti tumpeng-tumpeng kemarin yang diperjuangkan secara bersama.

‎Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian seluruh pimpinan, mulai dari komisariat, korkom, cabang, badko, PB, hingga alumni, untuk menghapus batas-batas yang selama ini dianggap wajar.

‎Mengapa perlu Bedah PDK?

‎Ada satu hal yang juga perlu diakui secara jujur. Sebagian besar kader HMI mengenal Kohati sebagai korps kader perempuan. Namun tidak banyak yang benar-benar membaca Pedoman Dasar Kohati, termasuk Kohan. Maka jangan heran ketika Calon Instruktur pada saat di-screening Materi Kekohatian malah kesulitan. Jangan heran pula pengkaderan dasar seperti Latihan Kader I tidak mampu dikelola dengan baik untuk menanamkan doktrin perjuangan kepada kader perempuan.

Belum adanya instruktur perempuan memang menjadi soal, tetapi yang lebih mendasar adalah apakah instruktur yang ada sudah cukup memahami alur perjuangan Kohati dalam PDK untuk master of training yang berkompeten dan mampu melahirkan Instruktur yang berasal dari Perempuan. Atau apakah hal ini juga dilemparkan sendiri pada Kohati untuk berupaya bergerak memantaskan diri ?

‎Banyak bertanya kenapa sering kajian bedah PDK?, logika yang sama dapat digunakan untuk mempertanyakan. Mengapa perlu kajian konstitusi HMI Atau pada organisasi lainya seperti paguyuban, BEM, HMJ, UKM kenapa perlu mengkaji AD/ART

Bukankah seluruh pasalnya sudah tertulis?

‎Tentu jawabannya bukan untuk menghafal pasal. Melainkan untuk memahami arah perjuangan, filosofi organisasi, dan cita-cita yang hendak diwujudkan.

Begitu pula dengan Pedoman Dasar Kohati, yang karena tidak pernah dibuka sehingga sedikit yang tau bahwa didalamnya juga termuat Nilai-nilai Dasar Perjuangan Islam (NDP)

‎Membaca PDK KOHATI bukan sekadar membaca Pasal 1 sampai Pasal 26. Bukan pula sekadar mengetahui struktur organisasi atau mekanisme kelembagaan.

‎Mulai dari mukadimah yang berbicara tentang Islam sebagai ajaran yang hak dan sempurna, manusia sebagai khalifah di muka bumi, kesetaraan derajat laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT, perempuan sebagai pilar peradaban, pentingnya penguasaan ilmu agama, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga visi perempuan dalam masyarakat Islami. Kemudian dilanjutkan dalam PDK II yang memuat berbagai penafsiran, termasuk landasan gerak KOHATI yang dibangun di atas landasan filosofis, teologis, historis, dan konstitusional.

‎Ironisnya, kajian terhadap PDK KOHATI justru kadang dianggap tidak terlalu penting. Bahkan ada yang mempertanyakan urgensinya. Padahal pada saat yang sama, kita menganggap wajar kajian konstitusi HMI, kajian NDP, atau kajian sejarah organisasi. Seolah-olah memahami HMI adalah kebutuhan bersama, sementara memahami Kohati adalah urusan Kohati.

‎‎Cara berpikir seperti inilah yang sesungguhnya perlu dievaluasi.

‎Tujuan *Kohati adalah terbinanya muslimah berkualitas insan cita.* Dan untuk memahami tujuan tersebut, kita perlu membaca lebih jauh daripada sekadar nama organisasinya.

‎Barangkali karena itu, muncul pertanyaan yang sesekali terdengar di ruang-ruang diskusi: apakah Kohati seharusnya berdiri sendiri agar lebih bebas bergerak? Menurut penulis, pertanyaan tersebut tidak lahir karena Kohati ingin berpisah. Persoalan sesungguhnya bukan pada status kelembagaan Kohati melainkan sejauh mana rumah besar ini memahami salah satu ruang perjuangannya sendiri.

‎Milad ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya dengan jujur: apakah Kohati selama ini benar-benar sudah ditempatkan sebagai bagian integral dari perjuangan institusi, atau hanya dihormati pada ruang-ruang tertentu yang khusus dan terpisah?

Tetap Kokoh dan berkharisma Seperti Bunga Melati, Selamat Milad ke-60 untuk Kohati, Yakin Usaha Sampai.

Tinggalkan Balasan