Oleh: Mohtar Umasugi
Alumni IAIN Ternate dan Pendiri STAI Babussalam Sula Maluku Utara
Enam puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat jejak pengabdian, pergulatan pemikiran, dedikasi para dosen, kerja keras tenaga kependidikan, perjuangan mahasiswa, serta kontribusi para alumni yang tersebar di berbagai ruang pengabdian. Karena itu, ketika IAIN Ternate memasuki usia ke-60 tahun, sesungguhnya yang sedang kita rayakan bukan hanya bertambahnya usia sebuah institusi, tetapi juga panjangnya perjalanan ilmu pengetahuan dalam membentuk manusia dan peradaban di Maluku Utara.
Bagi saya, IAIN Ternate bukan sekadar sebuah perguruan tinggi tempat seseorang memperoleh gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan cara berpikir, ruang belajar tentang kehidupan, sekaligus ruang yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu harus menemukan jalan menuju masyarakat. Pengetahuan harus berujung pada pengabdian.
Enam dekade perjalanan IAIN Ternate menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah. Ia tidak hanya melahirkan sarjana yang memahami disiplin keilmuan, tetapi juga membentuk manusia yang diharapkan memiliki integritas moral, kepekaan sosial dan tanggung jawab kebangsaan. Di sinilah makna “mengayu dan mengabdi” menemukan relevansinya.
Mengayu bagi saya adalah metafora tentang perjalanan. Seperti sebuah perahu yang terus bergerak mengarungi laut, IAIN Ternate telah melewati berbagai gelombang zaman. Dari masa ketika akses pendidikan tinggi di Maluku Utara masih sangat terbatas, hingga memasuki era digital dan disrupsi teknologi seperti sekarang.
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Tetapi sebuah institusi pendidikan yang hidup tidak boleh kehilangan arah hanya karena zaman berubah. Ia harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
IAIN Ternate telah menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual masyarakat Maluku Utara. Dari kampus inilah lahir guru, birokrat, akademisi, ulama, politisi, aktivis, praktisi pendidikan, dan berbagai profesi lainnya. Mereka membawa ilmu yang diperoleh dari kampus ke tengah-tengah masyarakat.
Dengan demikian, kontribusi IAIN Ternate sesungguhnya jauh lebih besar daripada apa yang dapat dihitung melalui jumlah lulusan, program studi, publikasi ilmiah ataupun capaian kelembagaan. Ukuran paling penting dari sebuah perguruan tinggi adalah sejauh mana ilmu yang diproduksinya memberikan perubahan bagi kehidupan masyarakat. Di titik inilah konsep pengabdian menjadi penting.
Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari persoalan masyarakat. Ia harus menjadi rumah pengetahuan yang mampu membaca realitas. Kemiskinan, ketimpangan pendidikan, persoalan sosial, lemahnya literasi, perubahan budaya, transformasi digital, hingga tantangan pembangunan daerah membutuhkan kontribusi pemikiran perguruan tinggi. IAIN Ternate mempunyai tanggung jawab moral untuk terus hadir di tengah persoalan tersebut.
Sebab Maluku Utara hari ini membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Kita membutuhkan pembangunan manusia. Kita membutuhkan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kedalaman spiritual. Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya mampu mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan.
Dalam konteks itu, saya melihat perjalanan 60 tahun IAIN Ternate sebagai perjalanan dari kampus yang mengajarkan ilmu menuju kampus yang menghadirkan manfaat ilmu.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Perguruan tinggi menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat, perkembangan kecerdasan buatan, tuntutan kompetensi abad ke-21, perubahan dunia kerja, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pendidikan tinggi. Karena itu, usia 60 tahun harus menjadi momentum refleksi.
IAIN Ternate perlu terus memperkuat kualitas akademik, riset, publikasi ilmiah, inovasi pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari itu, kampus perlu memperkuat karakter akademiknya sebagai pusat produksi pengetahuan yang mampu menjawab persoalan lokal dengan perspektif global.
Maluku Utara memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Tetapi kekayaan alam tanpa kualitas sumber daya manusia dapat menjadi paradoks pembangunan. Karena itu, perguruan tinggi memiliki tugas strategis untuk memastikan bahwa kekayaan tersebut dikelola dengan pengetahuan, etika, keadilan dan keberlanjutan.
Di sinilah saya berharap IAIN Ternate tidak hanya menjadi saksi perubahan Maluku Utara, tetapi menjadi salah satu aktor intelektual yang ikut mengarahkan perubahan tersebut.
Enam puluh tahun adalah usia yang matang, tetapi bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru pada usia inilah keberanian untuk melakukan transformasi harus semakin kuat.
Kepada para dosen yang telah mencurahkan ilmu dan pengabdiannya, kepada tenaga kependidikan yang bekerja dalam sunyi, kepada para mahasiswa yang terus menuntut ilmu, kepada alumni yang membawa nama almamater di berbagai medan pengabdian, serta kepada seluruh keluarga besar IAIN Ternate, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Dan kepada para guru dan dosen yang telah mendahului kita menghadap Sang Khalik, doa terbaik senantiasa kita panjatkan. Ilmu yang mereka ajarkan adalah amal yang insyaallah terus mengalir sepanjang ilmu itu diamalkan oleh generasi setelahnya.
Dan olehnya, sebuah almamater tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh alumninya. Ia selalu hidup dalam ingatan, dalam nilai yang pernah diajarkan, dan dalam pengabdian yang kita lakukan setelah meninggalkan gerbang kampus.
Karena itu, enam puluh tahun IAIN Ternate adalah enam puluh tahun perjalanan ilmu, enam puluh tahun perjalanan manusia, dan enam puluh tahun perjalanan pengabdian.
Selamat Milad ke-60 tahun IAIN Ternate.
Teruslah mengayu menembus zaman. Teruslah menyalakan cahaya ilmu. Dan teruslah mengabdi untuk bangsa, agama dan daerah tercinta, Maluku Utara.
Sebab, almamater terbaik bukan hanya yang memberi kita gelar, tetapi yang mengajarkan kepada kita untuk mengembalikan ilmu kepada kehidupan.








