Oleh: Sudarmono Fokatea
Ketua Bidang External dan Jaringan Strategis PP – HPMS
Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) bukan sekadar paguyuban kedaerahan yang dibentuk untuk mempertemukan mahasiswa asal Kepulauan Sula di tanah rantau. HPMS adalah rumah besar intelektual, ruang kaderisasi, wadah perjuangan, sekaligus jembatan harapan masyarakat Kepulauan Sula, baik yang berada di perantauan maupun di tanah kelahiran.
Karena itu, HPMS tidak boleh hanya dikenal sebagai organisasi tempat berkumpul, berdiskusi, dan menyelenggarakan kegiatan seremonial. Lebih dari itu, HPMS harus mampu membangun pengaruh, memperluas kontribusi, serta mengambil peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan, sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.
Organisasi yang besar bukan semata-mata diukur dari jumlah anggota, kemegahan sekretariat, atau banyaknya agenda yang diselenggarakan. Kebesaran organisasi justru ditentukan oleh seberapa luas manfaat yang diberikan, seberapa kuat gagasan yang diperjuangkan, dan seberapa nyata kontribusinya bagi masyarakat.
Sebagai Ketua Bidang Eksternal dan Jaringan Strategis Pengurus Pusat HPMS, saya memandang bahwa tugas kami bukan sekadar membangun relasi dengan berbagai pihak. Tanggung jawab ini jauh lebih besar, yakni menjadikan jaringan sebagai kekuatan untuk membangun masa depan organisasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat Kepulauan Sula.
Membangun Marwah HPMS di Ruang yang Lebih Luas.
Pertama, HPMS harus mampu tampil sebagai representasi generasi muda Kepulauan Sula yang cerdas, kritis, berintegritas, dan beradab di ruang publik.
Di tengah dinamika sosial dan pembangunan yang terus berkembang, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton. Mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari solusi, menyampaikan gagasan, mengawal kebijakan, serta membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Dalam konteks ini, Bidang Eksternal dan Jaringan Strategis memiliki tanggung jawab untuk membawa HPMS menjalin komunikasi dengan organisasi Cipayung, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan (OKP), lembaga pemerintah, dunia usaha, institusi pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan di tingkat daerah maupun nasional.
Setiap ruang pertemuan harus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas dan gagasan HPMS. Setiap dialog harus membuka ruang pertukaran pikiran. Setiap hubungan yang dibangun harus memperkuat posisi organisasi sebagai mitra yang memiliki gagasan dan komitmen terhadap kemajuan daerah.
Kita ingin memastikan bahwa ketika nama HPMS disebut, yang terbayang bukan hanya identitas kedaerahan, melainkan juga kapasitas intelektual, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kesungguhan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Membawa nama HPMS berarti membawa marwah Kepulauan Sula. Oleh sebab itu, setiap kader harus memahami bahwa sikap, ucapan, dan tindakan mereka turut menentukan bagaimana organisasi dan daerah ini dipandang oleh pihak luar.
Mengubah Jaringan Menjadi Manfaat Nyata.
Kedua, jaringan harus menghasilkan manfaat. Sebab, relasi yang hanya berhenti pada pertemuan, pertukaran nomor telepon, dan dokumentasi kegiatan tidak cukup untuk menjawab kebutuhan kader maupun masyarakat.
Bagi kami, keberhasilan membangun jaringan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya pihak yang bersedia bertemu. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana hubungan tersebut dapat dikembangkan menjadi program yang memberikan manfaat nyata.
Jaringan dengan dunia usaha, misalnya, harus diupayakan membuka akses informasi beasiswa, program magang, pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, dan peluang kerja bagi kader HPMS.
Jaringan dengan pemerintah daerah perlu diarahkan untuk memperkuat komunikasi mengenai kebutuhan pendidikan mahasiswa, akses beasiswa daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta berbagai agenda pembangunan yang menyentuh kepentingan masyarakat Kepulauan Sula.
Sementara itu, kolaborasi dengan organisasi kepemudaan dan lembaga pendidikan dapat dikembangkan melalui diskusi kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, pendidikan politik yang sehat, penguatan kapasitas kader, hingga kerja-kerja sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dengan demikian, Bidang Eksternal dan Jaringan Strategis tidak boleh hanya menjadi bidang yang mengurus undangan, menghadiri pertemuan, atau membangun hubungan formal. Bidang ini harus menjadi penghubung antara potensi organisasi dan peluang yang tersedia di luar organisasi.
Prinsip yang ingin kami bangun sederhana: setiap jaringan harus membuka peluang, setiap kolaborasi harus memiliki tujuan, dan setiap program harus diupayakan menghasilkan manfaat.
Namun, semua itu membutuhkan kerja yang terukur, komunikasi yang berkelanjutan, serta evaluasi yang terbuka. Jaringan tidak akan berarti tanpa tindak lanjut, dan gagasan tidak akan menjadi kenyataan tanpa kesungguhan untuk bekerja.
Terbuka untuk Kolaborasi, Tegas Menjaga Independensi.
Ketiga, HPMS harus mampu membangun kemitraan tanpa kehilangan independensi dan idealismenya.
Dalam kehidupan organisasi, membangun hubungan dengan pemerintah, dunia usaha, maupun kelompok kepentingan lainnya merupakan hal yang penting. Akan tetapi, keterbukaan terhadap kerja sama tidak boleh dimaknai sebagai penyerahan sikap kritis atau pengorbanan prinsip organisasi.
HPMS harus tetap menjadi rumah bersama bagi mahasiswa dan pelajar Kepulauan Sula dengan berbagai latar belakang pemikiran. Organisasi ini harus berdiri di atas kepentingan kader dan masyarakat, bukan menjadi alat untuk melayani kepentingan politik kelompok atau segelintir elite.
Kita dapat bekerja sama dengan siapa saja selama kerja sama tersebut memiliki tujuan yang jelas, sesuai dengan AD/ART, menghormati prinsip organisasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada saat yang sama, HPMS harus tetap memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik ketika menemukan kebijakan yang perlu diperbaiki. Hubungan baik tidak boleh menghalangi suara kebenaran, dan kedekatan dengan pemangku kepentingan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab moral mahasiswa.
Independensi bukan berarti menutup diri dari komunikasi. Sebaliknya, independensi adalah kemampuan untuk menjalin hubungan dengan berbagai pihak tanpa kehilangan kebebasan berpikir dan menentukan sikap.
Kita boleh berteman dengan semua pihak, tetapi keberpihakan organisasi harus tetap diarahkan pada kebenaran, keadilan, kepentingan kader, dan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Sula.
Tiga Agenda Strategis untuk Masa Depan HPMS.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PP-HPMS, Iqbal Ruray, Bidang Eksternal dan Jaringan Strategis berkomitmen mendorong tiga agenda utama sebagai langkah awal memperkuat posisi organisasi.
Pertama, digitalisasi database alumni dan mitra strategis HPMS se-Indonesia.
Alumni merupakan salah satu aset penting organisasi. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, profesi, serta jaringan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi kader yang sedang menempuh pendidikan maupun mempersiapkan masa depan.
Karena itu, pendataan alumni perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Database yang tertata akan membantu organisasi memetakan potensi sumber daya manusia, membuka komunikasi antargenerasi, serta mengidentifikasi peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.
Digitalisasi juga perlu diarahkan pada pengelolaan informasi mitra strategis agar komunikasi organisasi menjadi lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan persetujuan serta perlindungan data pribadi.
Kedua, roadshow silaturahmi kebangsaan ke organisasi kepemudaan dan lembaga pemerintah.
Agenda ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan upaya membangun dialog, memperkenalkan gagasan, dan membuka ruang kolaborasi.
Melalui silaturahmi yang terarah, HPMS dapat menyampaikan aspirasi kader, membangun komunikasi antarlembaga, serta mencari peluang program bersama yang berkaitan dengan pendidikan, pengembangan kepemudaan, dan pembangunan daerah.
Kami ingin menjadikan setiap kunjungan sebagai pintu masuk bagi kerja sama yang lebih konkret, bukan sekadar agenda seremonial yang selesai setelah dokumentasi dipublikasikan.
Ketiga, menginisiasi Forum Pemuda Kepulauan sebagai ruang kolaborasi.
Kepulauan Sula memiliki potensi generasi muda yang perlu dipertemukan dalam ruang dialog dan kerja bersama. Perbedaan organisasi, latar belakang pendidikan, maupun pengalaman seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.
Forum Pemuda Kepulauan diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan, konsolidasi potensi, dan perumusan rekomendasi terhadap persoalan yang dihadapi generasi muda serta masyarakat Sula.
Forum ini juga dapat menjadi wadah untuk mendorong kegiatan bersama, mulai dari pendidikan kepemimpinan, pengembangan kapasitas pemuda, advokasi pendidikan, hingga gagasan pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Tentu, keberhasilan ketiga agenda tersebut membutuhkan dukungan seluruh pengurus, kader, senior, alumni, dan mitra strategis. Karena itu, kolaborasi harus dibangun dengan semangat kesetaraan, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama.
Menjadikan HPMS sebagai Kekuatan Intelektual dan Sosial.
Pada akhirnya, masa depan HPMS tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen organisasi untuk bekerja bersama, menjaga persatuan, dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.
Kita membutuhkan organisasi yang kuat secara internal sekaligus mampu membangun komunikasi yang produktif dengan dunia luar. Kita membutuhkan kader yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja, membangun solusi, dan mempertanggungjawabkan setiap langkah perjuangannya.
Saya, Sudarmono Fokatea, yang akrab disapa Bung Mono, bersama seluruh anggota Bidang Eksternal dan Jaringan Strategis, membuka ruang seluas-luasnya bagi para senior, alumni, organisasi kepemudaan, lembaga pemerintah, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan yang memiliki komitmen untuk berkolaborasi membangun HPMS dan memajukan Kepulauan Sula.
Kami percaya bahwa kekuatan organisasi tidak lahir dari kerja satu orang atau satu bidang semata. Kekuatan itu tumbuh dari kepercayaan, solidaritas, konsistensi, dan kesediaan setiap elemen untuk memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya.
HPMS harus bergerak melampaui batas-batas kegiatan seremonial. HPMS harus hadir dalam percakapan strategis, mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan, serta membuka jalan bagi lahirnya generasi muda Sula yang berdaya saing dan berintegritas.
Sebab, ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa besar organisasi terlihat, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh kader dan masyarakat.
HPMS tidak boleh hanya besar di sekretariat, tetapi harus besar dalam gagasan, kuat dalam jaringan, teguh dalam independensi, dan nyata dalam pengabdian.