Pelan Tapi Pasti Jejak ‘IMS’ Di Negeri Fagogoru

Oleh: Faisal Opo Anwar

Membangun negeri tidak perlu ramai, cukup terasa di rumah warga. Itulah gaya Ikram Malam Sangaji. Ia tidak membawa janji besar, tetapi bekerja pelan namun terus berjalan. Membangun Fagogoru bukan dengan kuasa, melainkan dengan keberpihakan. Keberpihakan pada sejarah Fagogoru, masa depannya, dan warga yang lama menanti. Karena negeri yang berpihak, fondasinya akan kuat.

Kerja IMS sudah nyata. Ia lebih sering berada di balai desa daripada di ruang rapat mewah. Dari situlah lahir program yang langsung menyentuh warga. Sekolah direnovasi agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman, tidak kehujanan dan tidak kepanasan. Puskesmas diperkuat, obat tersedia, tenaga kesehatan lengkap, dan layanan menjadi lebih cepat karena urusan nyawa tidak bisa ditunda. Jalan desa diaspal, jembatan yang putus disambung supaya hasil kebun warga sampai ke pasar tanpa rusak di jalan. Rumah tidak layak huni dibedah agar keluarga dapat tidur tenang saat hujan. Penataan Kota Weda pun disentuh, drainase dibersihkan, lampu jalan dinyalakan, dan ruang publik dirapikan supaya kota lebih tertib dan nyaman.

Fagogoru bukan sekadar nama sejarah, melainkan rumah kita bersama. Adat dan zaman modern harus berjalan beriringan. Bagi IMS, membangun berarti mendengar terlebih dahulu. Turun ke desa, bertanya langsung kepada ibu-ibu, anak-anak, dan petani tentang apa yang paling mendesak. Ukurannya sederhana, apakah program ini membuat warga Fagogoru lebih berdaya ke depan. Sekolah yang layak melahirkan anak cerdas, puskesmas yang siap melahirkan generasi sehat, jalan dan jembatan yang tembus melahirkan ekonomi bergerak, serta kota yang rapi melahirkan rasa aman. Karena negeri yang kuat lahir dari manusia yang kuat, dan manusia menjadi kuat ketika merasa dihargai negerinya.

Yang paling menyentuh dari cara kerja IMS adalah ia tidak melupakan kelompok kecil. Perempuan di pasar, nelayan yang pulang tengah malam, dan lansia di ujung desa. Bagi IMS, pembangunan tidak adil jika hanya berhenti di ibu kota kecamatan. Pembangunan harus sampai ke dapur, pelabuhan kecil, hingga rumah panggung yang lantainya masih papan. Keberpihakan sejati diuji ketika yang lemah ikut diangkat. Negeri hanya akan maju jika tidak ada warga yang tertinggal.

Jalan membangun memang tidak mulus. Ada keterbatasan anggaran, perbedaan kepentingan, dan rasa lelah. Namun IMS tetap berada di meja dialog, berbicara dengan kepala dingin dan bekerja dengan langkah tenang. Ia tidak membangun tembok, tetapi merajut jembatan antara pemerintah, adat, perusahaan, dan warga. Karena Fagogoru tidak akan maju jika hanya yang kuat yang berbicara. Negeri ini akan berdiri tegak jika semua merasa memiliki bagian.

Pada akhirnya, warga tidak akan mengingat pidato indah atau gunting pita seremonial. Warga akan mengingat anak yang bisa bersekolah tanpa kehujanan, ibu yang berobat tanpa antre panjang, dan bapak yang pulang membawa hasil kebun tanpa takut jalan rusak. Jika kelak anak cucu Fagogoru ditanya siapa yang menanam harapan di negeri ini, semoga mereka menjawab dengan senyum, “IMS. Dia datang pelan, bekerja pasti, dan meninggalkan jejak untuk kami.” Pemimpin yang baik bukan yang paling lantang berjanji, tetapi yang paling setia menepati. Karena Fagogoru layak memiliki pemimpin yang pulang kepada rakyat, bukan menjauh dari rakyat.

Penulis: TimEditor: Lutfi Teapon

Tinggalkan Balasan