Oleh : Manifesto Pati
Setiap zaman memiliki monster¬nya: pada zaman feodal, ia bernama bangsawan; pada zaman kolonial, ia bernama imperium; pada zaman modern, ia bernama oligarki. Bentuk berbeda, esensinya tetap: kekuatan yang tumbuh dari keserakahan.
Oligarki adalah feodalisme yang diganti jas. Ia tidak lagi memakai mahkota, tetapi memakai saham dan izin eksploitasi. Namun cara pandangnya sama: rakyat dianggap alat, tanah dianggap barang, Filosofi dasar oligarki adalah keyakinan bahwa dunia bisa diukur. Diukur oleh uang, bilangan, persentase laba, strategi ekspansi. Mereka lupa bahwa tidak semua yang penting bisa diukur, dan tidak semua yang bisa diukur itu penting.
Keserakahan bukan sekadar sifat buruk; ia adalah sistem. Ia dibangun, diawetkan, dipelihara oleh institusi yang dirancang untuk memastikan segelintir orang dapat mengambil lebih banyak daripada yang mereka perlukan, Feodalisme dulu berdiri di atas keturunan; feodalisme modern berdiri di atas kapital. Namun keduanya menggunakan logika yang sama: menentukan nasib manusia tanpa mendengarkan suara manusia.
Tanah masyarakat menjadi saksi bisu atas evolusi kekuasaan ini. Siapa pun yang kuat-raja, kolonial, maupun oligarki selalu menganggap tanah sesuatu yang bisa dimiliki total, Padahal tanah secara filosofis, bukan milik siapa pun. Kita adalah pendatang sementara yang meminjam tanah dari anak cucu yang belum lahir, Tetapi oligarki tidak percaya pada keterbatasan. Mereka menolak gagasan bahwa bumi punya batas. Bagi mereka, batas hanyalah hambatan yang harus dibeli atau dilobi.
Inilah akar persoalan terbesar: ketidakmampuan manusia modern untuk melihat dirinya sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasa ekosistem, Keserakahan tidak lahir dari kebutuhan, melainkan dari ilusi kekurangan. Ilusi bahwa “lebih” selalu lebih baik, padahal “lebih” itulah yang memusnahkan, Sistem ekonomi global mengajarkan bahwa siapa pun yang tidak terus berkembang dianggap gagal. Maka perusahaan harus tumbuh, keuntungan harus naik, tanah harus dikorbankan.
Itulah kolonialisme ekonomi: penjajahan yang tidak lagi memakai kapal perang, tetapi memakai grafik keuangan, Kolonialisme dulu datang dari bangsa luar; kolonialisme hari ini bisa datang dari bangsa sendiri. Penjajah bisa berbicara bahasa yang sama, tinggal di tanah yang sama, tetapi tidak berpihak pada rakyat yang sama, Inilah tragedi paling halus dalam sejarah politik manusia: pengkhianatan dari dalam rumah sendiri.
Mereka yang menumpang di tanah rakyat tidak datang dengan kekuatan fisik; mereka datang dengan kekuatan narasi. Narasi tentang pembangunan. Narasi tentang kemajuan. Narasi tentang masa depan, Padahal masa depan yang mereka tawarkan adalah masa depan yang dibangun di atas kehancuran bumi, hilangnya air bersih, rusaknya ekosistem masa depan, Mereka menganggap rakyat sebagai penghambat, padahal rakyat adalah penjaga, Rakyat tidak ingin menghentikan kemajuan, rakyat ingin menghentikan kehancuran.
Secara filosofis, keserakahan adalah bentuk ketidakdewasaan. Ia adalah ketidakmampuan untuk merasa cukup. Dan sistem oligarkis memelihara ketidakdewasaan itu hingga menjadi kekuatan politik dalam feodalisme, rakyat dipaksa tunduk oleh garis keturunan, dalam oligarki, rakyat dipaksa tunduk oleh logika ekonomi. Namun rakyat tetap manusia bukan angka bukan grafik, bukan aset, Tanah tetap tanah bukan komoditas yang bisa dipindahkan tanpa memindahkan luka, Ekosistem tetap ekosistem bukan latar belakang yang bisa diganti seperti aset panggung bisnis.
Ketika oligarki menguasai tanah, sebenarnya yang mereka kuasai bukan tanah, tetapi tubuh kehidupan itu sendiri: air yang mengalir di dalamnya, hutan yang bernapas di atasnya, dan manusia yang menggantungkan hidup padanya, Inilah bentuk kolonialisme paling lengkap: perampasan ruang hidup, Apa yang disebut pembangunan hari ini banyak yang bukan pembangunan, melainkan pembongkaran alam.
Apa yang disebut modernisasi banyak yang bukan modernisasi, melainkan pemusnahan tradisi ekologis yang menjaga bumi lebih lama daripada ilmuwan mana pun. Filosofi yang mereka gunakan salah sejak akar: menganggap alam sebagai objek, bukan subjek. Menganggap manusia sebagai pusat bukan bagian. Menganggap keuntungan sebagai tujuan, bukan konsekuensi. Menganggap rakyat sebagai variabel, bukan pemilik sah nasib mereka. Manifesto ini bukan sekadar protes; ini adalah kritik terhadap logika berpikir yang telah menyimpang terlalu jauh dari realitas bumi.
Kami menyatakan bahwa dunia yang dibangun atas logika keserakahan tidak akan bertahan, Bumi tidak tunduk kepada izin lingkungan, laporan CSR, atau kontrak investasi, Hukum alam lebih kuat daripada hukum buatan manusia, Sungai yang dicemari tidak akan jernih hanya karena perusahaan menandatangani janji, Tanah yang dirusak tidak akan sembuh hanya karena ada klaim “reklamasi”, Hutan yang hilang tidak akan kembali meski mereka mencetak laporan keberlanjutan setebal buku suci, Karena alam tidak tunduk pada bahasa politik ia hanya tunduk pada keseimbangannya sendiri.
Inilah titik di mana keserakahan bertemu batasnya: ketika bumi tidak lagi mampu menanggung beban ilusi manusia, Dan ketika bumi marah, yang pertama terkena bukan oligarki; melainkan rakyat kecil. Maka kritik kami bukan hanya kritik ekonomi; ia adalah kritik moral, Kritik ini bukan hanya tentang tanah; ia tentang jiwa manusia yang telah kehilangan rasa hormat pada kehidupan, Rakyat yang menjaga tanah dianggap mundur, padahal mereka jauh lebih maju dalam memahami keberlanjutan dibanding mereka yang hidup di ruang rapat.
Kami menyatakan bahwa tanah bukan milik generasi hari ini; tanah adalah amanah dari generasi yang belum lahir. Maka merusaknya adalah pengkhianatan antarwaktu, Merampasnya adalah mencuri hak generasi yang belum bisa membela diri, Manifesto ini menuntut bukan hanya perubahan kebijakan, tetapi perubahan cara pandang: dari dominasi menjadi penghormatan, Dari eksploitasi menjadi pemeliharaan, Dari keserakahan menjadi kecukupan, Dari kolonialisme modern menjadi kedaulatan rakyat.
Kami menyerukan agar masyarakat tidak hanya melawan secara politik, tetapi juga secara filosofis dengan menolak logika yang menempatkan modal di atas kehidupan Karena perlawanan paling radikal adalah menolak cara berpikir yang merusak sejak akarnya, Kami menyatakan bahwa oligarki tidak hanya merusak bumi; mereka merusak cara manusia memahami nilai kehidupan. Masyarakat tidak boleh lagi percaya bahwa dirinya kecil; masyarakat adalah fondasi peradaban, Tanah tidak boleh lagi dianggap komoditas; tanah adalah sumber makna, Ekosistem tidak boleh lagi dipandang sebagai hambatan; ekosistem adalah guru.
Manifesto ini bukan tentang kebencian; ini tentang menempatkan hidup di posisi paling tinggi, di atas modal dan kepentingan apa pun, Perlawanan kami bukan kekerasan; perlawanan kami adalah penegasan bahwa hidup tidak boleh dikorbankan, Kami menolak feodalisme modern, mengutuk kolonialisme ekonomi, dan menggugat akar keserakahan yang merusak bumi, Dan akhirnya, kami menyatakan: peradaban yang sehat hanya bisa tumbuh ketika manusia berhenti menganggap dirinya penguasa, dan kembali menjadi penjaga kehidupan.












