Surat Cinta Untuk HMI se-Dua Cabang Ternate

Selamat Milad HMI ke 74thn : Semoga Konflik Dualisme Cabang Cepat diselesaikan. Dan masih Ingatkah sejarah?

Sekilas polesan usaha-usaha rencana pendirian HMI. Tulisan ini bukan untuk ingin memajang pengetahuan, bukan untuk memperkenalkan diri sebagai kader, namun tak lain dan tak bukan hanya untuk mengeluarkan rasa keresahan, keprihatinan terhadap polemik yang tak berkesudahan ini.

Tulisan singkat ini sudah terbilang lumrah dalam tiap kader HMI, apalagi yang sudah LK II, LK III dan jenjang lanjutan lainnya. Namun, jika sejarah hanya sebatas dibaca dan diingat tampa dipahami makna dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, maka sampel kasus terjadi di HMI Cabang Ternate saat ini.

Ya jelas….!

Kala itu, tepatnya di bulan November 1946 di Jogjakarta Ayahanda Lafran Pane Mengundang beberapa mahasiswa (Sekolah Tinggi Islam, Sekolah Tinggi Teknik dan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada) untuk rapat dan mendiskusikan ingin di dirikan satu organisasi mahasiswa. Berkisar 30 Mahasiswa saat itu, namun rapat yang dilaksanakan belum melahirkan satu kesepakatan, hal itu mendapat penentangan dari beberapa kelompok mahasiswa (Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia), juga kecurigaan-kecurigaan terhadap hal yang dimaksudkan itu.

Meski demikian, semangat tidak pernah redup dalam jiwa Lafran Pane sekalipun kritikan, juga tantangan yang muncul dari luar dan dalam islam.

Karena niat dan cita cita mulia untuk mencapai tujuan berdirinya organisasi, Lafran Pane sempatkan diri untuk mendiskusikan perihal itu kepada Rektor STI Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Dan Prof Kahar sepakat dengan gagasan Lafran Pane juga memberikan syarat agar organisasi yang nantinya didirikan tidak mencampuri urusan politik. Jelas bahwa situasi kala itu tidak menentu.

Tak lama kemudian, informasi akan didirikannya organisasi tersebut sudah tersebar dikalangan Mahasiswa STI. Lafran Pane menyiapkan kesiapan Rencana Anggaran Dasar juga nama organisasi yang nantinya didirikan adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Tahapan konsolidasi terus berlanjut, konsolidasi tidak hanya di dalam mahasiswa STI namun luar STI pun ia konsolidasi, obor semangat dan kegigihan yang menjadi kekuatannya untuk mendirikan HMI. Ia bertemu dengan mahasiswa di mesjid saat menjelang sholat jumat, lafran sempat memperkenalkan organisasi yang nantinya di bentuk.

Seiring berjalannya waktu semakin matang dan kuat dukungan mahasiswa berdirinya HMI. Hingga tepatnya di awal tahun 1947 pada bulan Februari. Saat itu tepatnya di pukul 16.00 (sore) adalah Mata Kuliah Tafsir dan dosennya Hussein Yahya, Lafran Pane meminta ijin kepada Hussein Yahya untuk diberikan kesepakatan waktu untuk maju ke depan menyampaikan maksud tersebut, akhirnya Hussein Yahya pun memberikan kesempatan kepadanya.

Lafran berdiri didepan kelas dan memimpin rapat di kesempatan itu. Seperti yang di kutip dalam bukunya Hariqo Wibawa Satria ” Lafran Pane : Jejak Hayat dan Pemikirannya”. menyatakan,

“hari ini adalah rapat pembentukan organisasi islam, karena semua persiapan sudah beres. Siapa yang mau menerima berdirinya organisasi mahasiswa islam ini, itu sajalah yang di ajak dan yang tidak setuju biarkan mereka terus menentang”, kutip singkat tutur Lafran.

Dan semua yang ada di dalam ruangan itu sepakat dengan apa yang di tawarkan oleh Ayahanda Lafran Pane. Hussein Yahya saat itu menyaksikan langsung proses berdirinya HMI di ruangan itu yang tepatnya pada hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947.

Lalu bagaimana dengan semangat kita saat ini sebagai pelanjut tongkat perjuangan yang di titipkan Ayahanda Lafran Pane?, Renungan dan jawab dalam lubuk hati.

Jelas terlihat melalui kacamata sosial baru baru ini, terjadi perselisihan pendapat, perdebatan konstitusi dari tingkat PB hingga tingkat Cabang. Amanah yang di titipkan para perintis organisasi ini kita tidak mampu membawa apa yang di cita-citakan saat itu.

Padahal sudah termaktub dalam mukaddimah HMI dan di AD HMI Pasal 4 itu jelas, dengan doktrin perjuangan NDP. Namun, HMI Cabang Ternate saat ini jauh dari missi para pendiri.

Jelas apa yang pernah di katakan Ayahanda Lafran Pane,

“islam merupakan spirit kemajuan bagi umatnya, bukan sebaliknya. HMI merupakan obornya”.

Jelas HMI yang berasaskan Islam dan dengan peran sebagai organisasi perjuangan adalah harus menghidupkan semangat itu, untuk mencapai MENGOKOHKAN KOMITMEN KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN. sebagai wujud rekomendasi perjuangan di masa mendatang.

HMI Cabang Ternate dengan dualismenya adalah satu cermin dan tontonan yang kurang baik terhadap generasi. HMI Cabang Ternate seharusnya menjadi motor penggerak di arus global yang mendesak ini. HMI Cabang Ternate seharusnya menjadi ikon penyelesaian problem Bangsa, Daerah dan generasi lanjutan sebagai satu aktualisasi tujuan HMI. HMI Cabang Ternate sudah tidak seharusnya berputar-putar dalam polemik ini, hal demikian orang bisa berasumsi luar terhadap kinerja cabang.

Pada akhirnya yang menjadi jatuh HMI dalam hal ini Komisariat termakan iklim cabang, sehingga hal-hal yang substansial dan vital dalam komisariat sudah tak di jalanan. Mungkin hanya sebatas pelaksanaan pengkaderan, selebihnya dalam tahapan pengawalan atau full up materi kini hanya jadi misteri. Pada akhirnya anggota tadinya terbilang banyak, kini hilang tanpa jejak.

Cabang seharusnya memikirkan dampak seperti itu, bukan mengedepankan ego dan kepentingan berjubah konspirasi yang mengorbankan banyak generasi.

Sekian tulisan singkat ini, semoga di MILAD HMI KE-74thn ini, HMI kembali berdiri kokoh di atas akidah perjuangan dan mengembalikan semangat kultural pengetahuannya.

Oleh : Faisal Budi Anggota Biasa HMI Komisariat Eksakta UMMU Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *