Bahagia Dalam Lilitan Masalah

Oleh: Mohtar Umasugi 

Pagi ini, sambil meneguk secangkir kopi, saya kembali merenungi satu pertanyaan sederhana: _apakah Sula benar-benar bergerak menuju kebahagiaan seperti yang dijanjikan dalam visi Sula Bahagia jilid dua?

Di atas kertas, visi itu terdengar indah. Di baliho, terlihat meyakinkan. Namun ketika kita menjejak tanah dan menatap wajah-wajah masyarakat di pasar, di kampung, di pesisir, kita tahu bahwa kenyataan tak semanis slogan. Banyak keluarga masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok, jalan yang belum baik, air yang tak merata, dan layanan publik yang belum hadir secara memadai. Kebahagiaan yang dijanjikan itu, rasanya masih jauh dari pangkuan mereka.

Sementara itu, pemerintah daerah tampak lebih sibuk mengurus agenda seremonial. Acara demi acara berlangsung meriah; panggung berdiri megah; publik dikirimi pesan bahwa semua baik-baik saja. Seolah-olah persepsi bisa menggantikan realitas. Padahal masyarakat tidak membutuhkan panggung—mereka butuh kehadiran pemerintah dalam bentuk solusi.

Inilah ironi pagi ini: kita berbicara tentang “bahagia”, tetapi yang terasa justru lilitan masalah yang tak kunjung terurai. Ada jarak yang semakin lebar antara narasi yang dikemas pemerintah dan kenyataan yang hidup di tengah masyarakat. Dan jarak itu tidak akan mengecil hanya dengan menambah jumlah seremoni atau mempercantik pesan publik.

Kebahagiaan tidak lahir dari pencitraan; ia tumbuh dari keberanian pemerintah memperbaiki hal-hal mendasar: lapangan kerja, harga terjangkau, pelayanan kesehatan yang humanis, infrastruktur yang layak, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.

Kopi pagi ini mengajarkan satu hal: visi yang baik tidak cukup bila hanya berhenti di ruang kata-kata. Ia harus bekerja, bergerak, dan menjawab kebutuhan masyarakat yang setiap hari berjuang.

Sula memang bisa bahagia. Tapi kebahagiaan itu harus diraih dengan kerja nyata, bukan dengan acara seremonial. Karena masyarakat sudah terlalu lama menunggu, dan menunggu lagi.