Oleh: Mohtar Umasugi
Dalam perjalanan hidup yang penuh gelombang, saya sering merenungi satu hal sederhana yang justru menyimpan hikmah besar: lima jari di tangan kita. Keberadaannya tampak biasa, tetapi di balik bentuknya yang tidak seragam tersembunyi pesan filosofis tentang manusia—tentang kelebihan, kekurangan, serta batas-batas yang mengajak kita memahami makna hidup secara lebih mendalam.
Refleksi ini sesungguhnya lahir dari momen khusus yaitu acara penandatanganan kesepakatan kerja sama ( MOU ) antara STAI Babussalam Sula Maluku Utara dengan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan, yang digelar di auditorium kampus, Kepala Cabang Dinas memberikan arahan yang sederhana namun menggugah. Ia berbicara tentang lima jari sebagai simbol karakter manusia—dan dari sana, pikiran saya tertarik lebih jauh untuk membedah filosofi di baliknya.
Jempol adalah simbol kekuatan dan kemampuan. Ia kokoh, berdiri berbeda dari yang lain. Dalam diri manusia, jempol mengajarkan bahwa setiap kita memiliki satu potensi utama yang bisa diandalkan—sebuah anugerah yang menjadikan kita mampu berdiri tegak menghadapi hidup. Namun jempol juga menunjukkan bahwa kekuatan tidak berarti apa-apa tanpa kerja sama. Sebesar apa pun kelebihan kita, tanpa jari-jari lain kita tak bisa menggenggam apa pun. Inilah peringatan halus bahwa kemampuan tidak boleh melahirkan kesombongan.
Telunjuk, jari yang biasa kita gunakan untuk menunjukkan arah, menggambarkan akal budi manusia. Kita diberi kemampuan menentukan jalan, memilih keputusan, menimbang risiko. Namun telunjuk juga simbol kecenderungan kita untuk saling menghakimi. Betapa mudahnya kita menunjuk kesalahan orang lain, namun begitu berat menunjuk diri sendiri sebagai sumber masalah. Di sinilah letak kekurangan manusia: kecerdasan sering gagal menjadi kebijaksanaan.
Jari tengah, yang paling tinggi, menghadirkan refleksi tentang keangkuhan. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia punya kecenderungan meninggikan diri—merasa lebih tahu, lebih pantas, lebih benar. Tetapi seperti jari tengah, berdiri sendiri dalam ketinggian justru membuat kita mudah melukai. Jari tengah menegur bahwa kemuliaan bukan soal tampilan yang menonjol, tetapi soal kerendahan hati untuk tetap membaur dengan yang lain.
Jari manis adalah penanda cinta dan komitmen, jari yang biasa dihiasi cincin sebagai simbol janji. Di sinilah kelebihan manusia tampak paling lembut—kemampuan mencintai, merawat, dan menjaga hubungan. Namun cinta juga tempat kekurangan kita terlihat: rapuh, mudah goyah, dan kadang tak setia. Jari manis mengajak kita memahami bahwa hubungan bukan dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari kerelaan menerima keterbatasan masing-masing.
Kelingking, yang paling kecil dan sering diremehkan, justru menyimpan pesan paling dalam. Ia menggambarkan kerendahan manusia—betapa kita sering merasa kurang dan tak berdaya. Namun justru dalam kekecilan itulah makna muncul. Kelingking menjelaskan bahwa peran sekecil apa pun tetap tidak tergantikan. Kekurangan bukan penghalang untuk berkontribusi; ia adalah ruang bagi kita untuk tumbuh.
Saat lima jari ini menggenggam, semuanya bersatu menjadi satu kekuatan. Begitu pula manusia. Kita tidak diciptakan untuk hidup hanya dengan kelebihan atau hanya dengan kekurangan. Kita diciptakan dengan kombinasi keduanya—agar kita selalu ingat bahwa kesempurnaan bukan ciri manusia, tetapi keterhubungan dan kerja bersama adalah kunci kekuatan kita.
Momen arahan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan itu menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan pun bergerak dengan prinsip yang sama: kelebihan lembaga harus bertemu dengan kebutuhan masyarakat, sementara kekurangan harus ditutupi dengan kerja sama. Itulah esensi dari kesepakatan antara STAI Babussalam Sula dan Cabang Dinas Pendidikan—menggenggam masa depan bersama, seperti lima jari yang saling menopang.
Akhirnya saya menyadari, manusia menjadi utuh bukan karena satu jari paling kuat atau paling panjang, tetapi karena semuanya bekerja bersama. Begitu pula hidup ini: kita tidak perlu menjadi sempurna, yang kita butuhkan hanyalah kemampuan untuk menerima diri—dengan segala kelebihan dan kekurangan—seraya terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.












