Jakarta,transtimur.com – Hasil survei terbaru dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) dan Dompet Dhuafa telah mengungkapkan realitas pahit yang dihadapi oleh sebagian besar guru di Indonesia.
Dilakukan pada bulan Mei 2024, survei ini menyoroti strategi yang diambil oleh guru saat menghadapi kebutuhan mendesak.
Dari 403 responden guru yang tersebar di 25 provinsi, sebanyak 56,5% mengakui bahwa mereka pernah menggadaikan barang saat menghadapi situasi ekonomi sulit. Emas perhiasan menonjol sebagai pilihan utama, dengan 38,5% responden memilihnya sebagai jalan keluar dari kesulitan finansial.
Selanjutnya, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan sertifikat tanah atau rumah juga menjadi barang yang cukup sering digadaikan, masing-masing oleh 14% dan 13% dari total responden. Motor dan emas kawin juga tercatat sebagai ‘pintu darurat’ ekonomi bagi sebagian guru yang terdesak.
Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk upah yang tidak layak dan kesulitan ekonomi, mayoritas guru tetap berkomitmen untuk terus mengajar hingga masa pensiun. Data menunjukkan bahwa 93,5% dari responden menyatakan kesediaan mereka untuk terus berkiprah di dunia pendidikan.
Survei ini, yang dilakukan dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional, menyoroti peran penting IDEAS dan Dompet Dhuafa dalam memahami dan mengatasi masalah kesejahteraan guru di Indonesia. Dengan fokus pada pengumpulan data dari berbagai lapisan guru, survei ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang kondisi sosial dan ekonomi para pendidik di tanah air.














