Anak dan Remaja Diciduk Satpol PP Saat Menghirup Lem Aibon, Ini Kata Kadis P3A Ternate

Transtimur.com — Kepala dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (P3A) kota ternate, Marjorie Amal, sangat menyayangkan dengan ditemukannya belasan anak dan remaja yang kedapatan oleh Satpol-PP sedang menghirup lem aibon di benteng orange, selasa (30/11/2021)

“itu sesuatu yang sangat memprihatinkan sebenarnya, sedih dan juga miris karena disini saya melihat karena kurang kontrol dari orang tua, pola pengasuhan memainkan peran penting sebenarnya”.

Lanjutnya, kemudian ada kekosongan yang luput dari peran orang tua dan sebenarnya tidak bisa di salahkan pada dinas tertentu yang menangani hal tersebut karena pihaknya juga melakukan kaloborasi.

Dikatakan Marjorie, biasanya kalau tertangkap seperti itu Satpol-PP, langsung menyampaikan ke kami yang kemudian tim pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan dan perlindungan anak (TP2A) langsung merapat ke lokasi kejadian.

“dan itu biasanya sudah di bawa ke BNN selain itu kami juga ikut serta untuk mengedukasi anak dan remaja tersebut”.

Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan pencarian data orang tua anak karena menurut Marjorie penanganan kasusnya sangat multi dimensi dan itu ada kaloborasi dengan pusat pembelajaran keluarga (PUSPAGA) salah pusat pelayanan kami yang terbaru.

Meski begitu, kita tidak bisa menyalahkan anaknya karena mereka (anak red) masih usia yang labil dan masih butuhkan pembinaan dan pengawasan dari orang tua dan titik temunya adalah kaloborasi TP2A dengan PUSPAGA.

Seraya ia tambahkan, TP2A bersama dengan BNN mengedukasi anaknya kemudian data dari orang tua di ambil,” itu biasanya PUSPAGA langsung mengunjungi rumah orang tua dengan tujuan agar diberikan edukasi cara pola asuh atau peran orang tua terhadap anak”.

Menurut Marjorie, orang tua juga harus membuat pernyataan yang memuat bahwa agar mengontrol aktifitas keseharian anak-anaknya.

Saat ditanya solusi hindarkan anak dan remaja dari penggunaan lem aibon, dirinya menjawab, walaupun kita berjaga di benteng orange tetapi itu tetap mereka akan menemukan tempat lain, sebenarnya itu bukan solusi.

“ada juga alternatifnya kenapa kita tidak bisa bekerja sama dengan pemerintah atau toko-toko agar jangan menjual lem kepada anak, itu kan, bisa saja mereka menyuruh orang lain untuk beli lem”.

Hal tersebut bukan solutif yang akan nerikan dampak signitif melainkan paling terpenting adalah bagaimana peran orang tua merubah pola asuh mengontrol anaknya masing-masing, tutupnya

Penulis: AbrilEditor: Redaksi transtimur