Ternate, Tarnstimur.com – Hutan Patani kembali bersimbah darah. Tragedi pembunuhan yang terjadi di Desa Banemo Kecamatan Patani bukan kali pertama terjadi, sebelumnya terjadi di Patani Timur dan Weda Timur, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
pasalnya Pelaku pembunuhan sampai saat ini belum ditemukan. Ini bukti nyata atas kegagalan sistemik Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara dalam membongkar rangkaian pembunuhan sistemik yang masif dan terstruktur ini.
Menanggapi kasus tersebut, Ketua Bidang PTKP Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate, Yusril J Todoku, dengan ini menyatakan sikap melawan segala bentuk pengalihan isu yang menjauhkan masyarakat dari substansi keadilan.
Kegagalan Polda Maluku Utara (APH).
“Kita tidak sedang membicarakan kejadian tunggal. Tragedi di tahun 2026 ini adalah luka lama yang terus dibiarkan menganga. Kasus pembunuhan di hutan Patani telah terjadi berulang kali, bertahun-tahun, namun hingga detik ini Polda Maluku Utara seolah kehilangan taringnya,” katanya kepada Transtimur.com Senin (6/3/2026).
“Di mana transparansi itu? Sampai hari ini, publik tidak pernah diberikan informasi yang terang benderang mengenai siapa pelaku dan siapa aktor intelektual di balik teror yang merajalela ini. Polda Maluku Utara jangan hanya piawai melempar seruan perdamaian yang bersifat kosmetik, sementara para pembunuh dan penggerak konflik masih bebas menghirup udara luar. Keadilan tidak bisa ditegakkan dengan retorika damai di atas kertas, melainkan dengan borgol di tangan pelaku!”, tegasnya.
Tolak Militerisasi, Tuntut Investigasi!
HMI Cabang Ternate secara tegas MENOLAK rencana pembangunan Koramil maupun penambahan personel aparat di wilayah Patani. Kami melihat ini bukan sebagai solusi, melainkan bentuk militerisasi ruang hidup masyarakat yang justru berpotensi meningkatkan eskalasi ketegangan.
“Masalah di Patani adalah masalah penegakan hukum yang mandul, bukan kurangnya pos penjagaan. Rakyat tidak butuh moncong senjata tambahan; rakyat butuh tim investigasi independen yang mampu menyeret aktor intelektual ke meja hijau. Menambah personel tanpa menangkap pelaku utama adalah tindakan sia-sia yang hanya akan menambah beban traumatis bagi warga”, bebernya.
Menunurutnya Saat ini, masyarakat Patani hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Trauma kolektif ini lahir karena negara gagal hadir dalam fungsi perlindungannya. Aktivitas ekonomi lumpuh, dan warga merasa asing di tanahnya sendiri karena ancaman nyawa yang bisa datang kapan saja dari dalam hutan.
“Ketidakmampuan polisi menangkap pelaku selama bertahun-tahun telah menciptakan mosi tidak percaya di tingkat akar rumput. Jika Polda Maluku Utara tetap bungkam dan gagal bertindak taktis dalam waktu dekat, maka jangan salahkan jika gelombang kemarahan mahasiswa dan rakyat akan semakin membesar,” jelasnya.
“Negara tidak boleh kalah oleh aktor pembunuhan, dan kepolisian tidak boleh terus-menerus bersembunyi di balik kata “perdamaian” sementara nyawa rakyat terus melayang. Yakin Usaha Sampai (Yakusa), tutupnya.
Secara Kelembagaan HMI Cabang Ternate Sikap Tegas yang meliputi:
- Usut Tuntas seluruh kasus pembunuhan di Hutan Patani tanpa pengecualian.
- Tangkap Aktor Intelektual yang mendalangi pembunuhan berantai di Hutan Patani.
- Hentikan Rencana Pembangunan Koramil dan penambahan personel yang hanya memperkeruh suasana.
- Lakukan Investigasi Transparan terkait kekerasan yang terus berulang demi memulihkan martabat dan keamanan rakyat Patani.












