Mengkhianati HPMS adalah Mengkhianati Sejarah Negeri Ini

oleh: Mohtar Umasugi 

Apakah Anda bisa berjanji tidak akan mengkhianati cinta kita kepada HPMS selamanya? Pertanyaan ini bukan sekadar rangkaian kata yang romantis atau puitis. Ia adalah ajakan untuk bercermin, untuk melihat kembali jejak panjang perjuangan yang telah kita lalui sebagai anak negeri yang pernah berjuang dalam satu barisan: barisan HPMS.

Kita berdiri hari ini di atas tanah yang telah lebih dari dua dekade menjadi sebuah kabupaten—negeri yang lahir dari perjuangan panjang, dari mimpi-mimpi kolektif, dari keberanian yang tidak mengenal rasa takut. Dan bila kita jujur kepada diri sendiri, HPMS adalah salah satu nama yang wajib disebut sebagai bagian dari sejarah besar itu. Tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak ide, tekanan moral, dan energi perjuangan yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun seiring waktu, banyak dari kita yang lupa. Lupa bahwa HPMS pernah menjadi ruang ide, benteng kritik, dan tempat kita menempa karakter. Lupa bahwa organisasi ini pernah memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Dan ketika lupa mulai menjadi kebiasaan, cinta pun perlahan memudar—hingga berubah menjadi cinta yang dilupakan.

Saya percaya bahwa mencintai organisasi tidak berbeda jauh dengan mencintai seseorang. Dulu kita berjanji untuk setia. Dulu kita berkata kita akan selalu ada. Namun ketika dinamika kehidupan menyibukkan kita, ketika ego menguasai ruang berpikir, atau ketika kepentingan pribadi lebih menggoda daripada tanggung jawab sejarah, kita perlahan menjauh. Tidak lagi hadir. Tidak lagi peduli. Dan pada akhirnya, kita sendiri yang melepaskan cinta yang pernah kita ikrarkan.

Tetapi ada sesuatu yang lebih menyedihkan dari sekadar melupakan yaitu ” Mengkhianati HPMS.” Dan di titik inilah saya ingin menegaskan:

Barang siapa di antara kita yang mengkhianati HPMS—entah dengan sikap, keputusan, atau ketidakpeduliannya—maka ia sama saja dengan seseorang yang hanya tahu menikmati hasil perjuangan panjang HPMS, tetapi tidak tahu menghargai dan menghormati karya besar yang telah ditorehkan oleh organisasi ini. Ia menikmati buah dari pohon yang ia sendiri enggan menyiram. Ia berdiri di atas bangunan yang tidak ia ikut dirikan. Dan lebih parah lagi, ia lupa bahwa dirinya tinggal di rumah yang didirikan oleh keringat para pendahulu.

Pengkhianatan terhadap HPMS bukan hanya pengkhianatan terhadap organisasi; ia adalah pengkhianatan terhadap sejarah, terhadap martabat perjuangan, dan terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi lahirnya kabupaten ini.

Karena itu, ketika saya bertanya: Bisakah Anda berjanji tidak akan mengkhianati cinta kita kepada HPMS selamanya?—saya sedang mengajak kita semua untuk kembali menyalakan api komitmen yang dulu pernah kita jaga. Bukan sekadar janji di lisan, tetapi janji dalam tindakan: hadir saat dibutuhkan, bersuara ketika organisasi disesatkan, dan menghormati sejarah yang telah membesarkan kita.

Cinta yang dilupakan bukan untuk diratapi, tetapi untuk dibangkitkan, Perjuangan yang terabaikan bukan untuk disalahkan, tetapi untuk disadarkan, dan sejarah yang sempat dilupakan bukan untuk diabaikan, tetapi untuk dijaga kembali.

Mari kita ingat kembali cinta itu, Mari kita jaga bersama, Mari kita buktikan bahwa kesetiaan kepada HPMS adalah kesetiaan kepada sejarah negeri ini.

Karena cinta yang tidak dijaga akan hilang selamanya, namun cinta yang diperjuangkan akan terus hidup—melampaui generasi, melintasi zaman, dan meneguhkan kembali siapa diri kita sebenarnya.