Sula, Transtimur.com – diduga Pernyataan Sekretaris Desa (Sekdes) Wailoba, Kecamatan Mangoli Tengah, Noho Duwila, yang menyebut bahwa 99 persen warga mendukung keberadaan perusahaan pengelolaan kayu bulat CV. Anugerah Empat Mangoli Mandiri (AEMM) itu pembohongan Publik (Hoaks)
Narasi tamparan ini di utarakan oleh tokoh masyarakat Wailoba, Ilyas Fokaaya, kepada Transtimur.com pada Senin (10/11/25).
Menurut Ilyas, klaim dukungan hampir seluruh warga terhadap perusahaan tersebut tidak benar dan menyesatkan publik. Karena mpai saat ini pihak perusahaan belum pernah secara resmi duduk bersama atau berdialog dengan masyarakat Wailoba untuk membahas aktivitas perusahaan yang berlangsung di wilayah desa itu.
“Pernyataan Sekdes itu hoaks. Masyarakat yang mana yang katanya mendukung 99 persen? Kalau yang dimaksud masyarakat Wailoba, itu tidak benar. Sampai sekarang perusahaan belum pernah punya itikad baik untuk bertemu langsung dengan masyarakat,” tegas Ilyas.
Ilyas menjelaskan, keberadaan CV. AEMM justru tidak memberikan dampak positif atau kesejahteraan nyata bagi warga lokal. Ia mencontohkan, bahkan tenaga kerja seperti ibu dapur pun didatangkan dari luar daerah, tepatnya dari Brukol, bukan memprioritaskan warga setempat.
“Bagaimana bisa dibilang perusahaan ini menopang ekonomi masyarakat, sementara tenaga kerja lokal hampir tidak dilibatkan. Setingkat ibu dapur saja didatangkan dari Brukol, dan warga Wailoba yang bekerja di situ cuma beberapa orang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ilyas juga menyoroti sikap Direktur CV. AEMM, Jawal Fokaaya, yang dinilai kerap menghindar dari pertemuan dengan masyarakat dan lebih memilih melibatkan aparat keamanan setiap kali ada kritik dari warga.
“Saya tegaskan kepada Jawal Fokaaya, jangan menakut-nakuti masyarakat dengan melapor ke pihak keamanan. Kalau memang gentle, datang saja temui masyarakat, biar semua jelas dan terang. Jangan main petak umpet,” ujarnya dengan nada kesal.
Ilyas menambahkan bahwa masyarakat Desa Wailoba tidak menolak pembangunan atau investasi, namun mereka menuntut transparansi, keterlibatan warga lokal, dan tanggung jawab sosial yang nyata dari perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka.
“Kami hanya ingin perusahaan hadir dengan niat baik, terbuka, dan melibatkan masyarakat. Jangan datang diam-diam lalu mengklaim semua warga sudah mendukung,” tandas Ilyas Fokaaya.












