Resah Menjadi Nyanyian Rindu Anak Negeri

Oleh: Mohtar Umasugi 

Segalanya Meresahkan, kalimat yang sering saya dengar dari beberapa pihak setiap kali saya menulis sesuatu yang dianggap “terlalu berani”: “Tulisanmu ini bisa bikin resah.” Tapi saya selalu bertanya dalam hati — siapa yang sebenarnya resah? Rakyat yang mencari keadilan, atau kekuasaan yang takut dikritik?

Tulisan ini memang meresahkan — bagi mereka yang terbiasa hidup di balik narasi indah pembangunan, sementara rakyat justru bergulat dengan realitas pahit: harga bahan pokok yang naik, pelayanan publik yang buruk, dan kebijakan yang lebih banyak berpihak pada pencitraan ketimbang kesejahteraan.

Saya tidak sedang menebar keresahan. Saya hanya menulis apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan bersama masyarakat di Kepulauan Sula. Menulis adalah bentuk tanggung jawab moral; menolak diam di tengah kebisuan panjang yang kini menggerogoti ruang publik kita.

Dalam konteks empiris, keresahan publik sesungguhnya lahir bukan karena tulisan kritis, melainkan karena kegagalan pemerintah menjawab persoalan nyata. Ketika proyek pembangunan mangkrak, ketika anggaran tak transparan, ketika jabatan publik lebih ditentukan oleh kedekatan politik ketimbang kompetensi, maka keresahan itu menemukan bentuknya sendiri — bukan dari kata-kata, melainkan dari kenyataan yang terabaikan.

Fakta di lapangan menunjukkan, banyak masyarakat di pelosok desa masih berjuang dengan segala keterbatasan, seperti akses air, PLN yang nyala mati, pendidikan yang belum merata dan jauh dari kata mutu, akses infrastruktur jalan dan jembatan yang tak kunjung membaik, Ekonomi stagnan, tidak ada perputaran uang, masyarakat kesal atas pelayanan kesehatan, wajah ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan dan desa terlihat kumuh. Ironisnya, di sisi lain, rakyat menyaksikan betapa kuatnya gairah para pejabat dalam menghadiri acara seremonial, menyiapkan baliho besar bertuliskan “ Sula Bahagia”, sementara di lapangan rakyat masih terjebak dengan kemiskinan dalam lingkaran keterlambatan pembangunan.

Apakah menulis tentang fakta-fakta empiris itu “meresahkan”? Barangkali iya — bagi mereka yang tidak nyaman pada kebenaran. Tapi bagi rakyat kecil, tulisan semacam ini adalah pengingat bahwa masih ada yang berani menyuarakan nurani.

Saya sadar, di zaman ketika sebagian orang sudah kehilangan independensi dan aktivis mulai kehilangan idealismenya, menulis dengan jujur menjadi tindakan yang dianggap “mengganggu.” Namun sejarah selalu mencatat, bahwa perubahan besar sering dimulai dari keresahan — dari satu kata yang ditulis dengan keyakinan bahwa kejujuran tak boleh dibungkam.

Maka biarlah tulisan ini meresahkan, asal ia mampu menggugah nurani kita semua untuk kembali menengok arah pembangunan yang kian melenceng dari kepentingan rakyat. Karena dalam setiap keresahan yang lahir dari kebenaran, selalu tersimpan harapan akan perubahan.