Inspirasi: Yang Terhormat Namaku Sendiri

Oleh:

Mohtar Umasugi

Sula, Transtimur.com – alam hidup yang serba bising ini, kita sering kali terjebak dalam pencarian pengakuan. Kita ingin dihormati, disebut-sebut, dan dikenang. Namun, seberapa sering kita benar-benar menghormati diri sendiri? Seberapa sering kita menyebut nama kita sendiri dengan kebanggaan yang tulus, tanpa perlu pengesahan dari orang lain?

Ainum Nadjib pernah menyampaikan pemikiran yang dalam tentang nama dan kehormatan. Baginya, nama bukan sekadar label, melainkan tanggung jawab. Nama adalah janji yang harus kita tepati, kepada diri sendiri dan kepada kehidupan. Maka, ketika seseorang menyebut nama kita dengan penghormatan, itu seharusnya bukan sekadar formalitas, tetapi cermin dari bagaimana kita menepati janji terhadap nilai-nilai yang kita yakini.

Sering kali, kita lebih sibuk membangun citra di hadapan orang lain daripada membangun integritas di dalam diri sendiri. Kita ingin orang lain mengenal kita sebagai orang yang baik, pintar, atau sukses, tapi kita lupa bertanya: apakah kita benar-benar sudah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri?

Karena pada akhirnya, penghormatan sejati bukanlah yang diberikan orang lain, melainkan yang kita berikan kepada diri kita sendiri—melalui kehidupan yang kita jalani dengan penuh makna dan tanggung jawab.

Dalam Islam, nama bukan sekadar identitas, tetapi juga doa dan tanggung jawab. Seorang cendekiawan Muslim pernah berkata bahwa nama adalah janji yang kita pikul seumur hidup, ia adalah kehormatan yang harus kita jaga, bukan sekadar kata yang terdengar di telinga orang lain.

Sebagai Muslim, kita diajarkan bahwa nama yang baik membawa makna yang baik. Rasulullah ﷺ sendiri memberi perhatian besar pada pemilihan nama yang mencerminkan kebaikan, karena setiap nama mengandung harapan dan doa bagi pemiliknya.

Tetapi, pertanyaannya adalah: apakah kita sudah menjalankan hidup sesuai dengan makna nama kita? Apakah kita telah menjadikan nama kita sebagai simbol kebaikan dan keberkahan, atau justru sebaliknya?

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali lebih sibuk mengejar pengakuan dari orang lain daripada menjaga harga diri kita sendiri di hadapan Allah. Kita ingin disebut sebagai orang yang terhormat, berilmu, atau berpengaruh, tetapi apakah kita telah berbuat sesuatu yang benar-benar membuat nama kita layak dihormati? Apakah kita sudah menjadikan kejujuran, amanah, dan akhlak sebagai bagian dari identitas kita?

Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, dalam banyak pemikirannya tentang Islam, kemanusiaan, dan kebangsaan, sering menekankan pentingnya integritas dan kesadaran diri. Salah satu gagasannya yang relevan dengan refleksi ini adalah tentang Islam, Keindonesiaan, dan Kemodernan—bahwa seseorang harus memahami identitasnya secara utuh sebelum mampu berkontribusi bagi masyarakat dan peradaban.

“Yang terhormat, namaku sendiri” bukan sekadar ungkapan tentang kebanggaan atas nama yang diberikan orang tua, tetapi sebuah perenungan: apakah aku telah menjalani hidup yang membuat namaku layak disebut dengan rasa hormat? Bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan dan sejarah.

Cak Nur menekankan bahwa kehormatan sejati lahir dari keterbukaan intelektual, kejujuran moral, dan kesadaran spiritual. Dalam konteks itu, nama kita bukan hanya tanda pengenal, tetapi cerminan nilai-nilai yang kita bawa. Ia bukan sekadar sesuatu yang tertera di KTP atau dipanggil dalam rapat, melainkan warisan yang kita tinggalkan dalam perjalanan hidup.

Cendekiawan Muslim seperti Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kehormatan sejati tidak terletak pada bagaimana orang lain memandang kita, tetapi pada bagaimana kita menjaga keikhlasan dalam niat dan amal. Allah tidak melihat rupa atau gelar kita, tetapi melihat hati dan perbuatan kita. Maka, ketika kita menyebut nama kita sendiri, apakah hati kita bisa merasa bangga atau justru malu?

Namun, dalam masyarakat yang sering terjebak dalam formalitas dan simbolisme, banyak orang mengejar kehormatan nama tanpa membangun substansinya. Kita ingin dihormati karena jabatan, gelar, atau prestasi, tetapi lupa bahwa kehormatan sejati lahir dari integritas, keikhlasan, dan kontribusi nyata.