Konflik China-Taiwan Kembali Memanas

Cina Taiwan Memanas

Cina,transtimur.com – Hubungan antara China dan Taiwan kembali memanas setelah China menggelar latihan militer di Selat Taiwan. Ketegangan ini bermula dari kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, ke Taiwan. Ini bukan kali pertama hubungan kedua negara tersebut memanas, konflik ini dipicu oleh klaim China yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari negaranya, sementara Taiwan tidak mengakui klaim tersebut.

Sejarah Singkat Taiwan
Pada awal abad ke-17, Taiwan merupakan bagian dari kekuasaan Belanda hingga tahun 1661 ketika mereka digulingkan oleh pengungsi dari China. Taiwan kemudian diserahkan kepada Jepang pada tahun 1895 setelah China kalah dalam Perang Sino-Jepang pertama. Menurut Pusat Strategis dan Studi Internasional, pada tahun 1911, ketika Dinasti Qing yang memimpin China jatuh, terjadi kekacauan politik. Saat itu, dua kelompok politik militer dengan ideologi berbeda bersaing untuk masa depan China, yakni Partai Nasionalis Kuomintang (KMT) dan Partai Komunis China (PKC).

Perang Saudara dan Pendudukan Jepang
Pada 1927, perang saudara pecah antara nasionalis dan komunis. Chiang Kai-shek, pemimpin nasionalis, mengalahkan komunis pada tahun 1928. Namun, perang saudara berlanjut hingga Jepang menyerang daratan China pada tahun 1937. Kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan berjuang bersama melawan penjajah Jepang. Jepang menyerah pada Sekutu pada tahun 1945, mengakhiri penjajahannya di China. Taiwan kembali ke China, tetapi konflik antara nasionalis dan komunis berlanjut.

Pembentukan Republik Rakyat China
Pada 1 Oktober 1949, pemimpin PKC, Mao Zedong, mengumumkan pembentukan Republik Rakyat China (RRC) di Beijing, menandai kemenangan PKC dan mengakibatkan Chiang Kai-shek serta pasukannya mundur ke Taiwan. Chiang Kai-shek mendeklarasikan Taipei di Pulau Taiwan sebagai ibu kota Republik China (ROC) pada Desember 1949, berusaha memutuskan kontak dengan China daratan.

Dukungan Amerika Serikat
Taiwan menjadi sekutu Amerika Serikat, yang mengerahkan armada untuk melindungi Taiwan dari potensi serangan China daratan. Meskipun Taiwan menerima pengakuan internasional sebagai ROC, RRC mendapatkan pengakuan di PBB pada tahun 1971, menyebabkan ROC harus bubar. Amerika Serikat tetap mendukung Taiwan dengan hubungan perdagangan dan militer meski mengikuti kebijakan Satu China yang tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka.

Rekonsiliasi dan Ketegangan Baru
Sejak masuknya China ke PBB, upaya rekonsiliasi terus dilakukan. Pada tahun 1987, penduduk Taiwan diizinkan mengunjungi China, dan kedua pihak mengadakan pembicaraan di Singapura pada tahun 1993. Namun, ketegangan kembali meningkat pada tahun 1996 ketika China melakukan uji coba rudal ke Taiwan untuk menakut-nakuti pemilih dalam pemilihan presiden demokratis pertama di Taiwan.

Perkembangan Terkini
Pada 2021, sebanyak 25 jet militer China menembus zona pertahanan Taiwan. Pada tahun yang sama, Presiden AS Joe Biden menyatakan Amerika Serikat akan membela Taiwan jika diserang China. Ketegangan semakin meningkat usai kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan pada Agustus 2022, yang diikuti dengan latihan militer China di sekitar Taiwan. China meluncurkan rudal dekat Taiwan, sementara Taiwan mengerahkan jet tempur untuk memperingatkan pesawat tempur China yang melewati garis tengah Selat Taiwan.

Konflik China-Taiwan tetap menjadi isu sensitif dengan potensi eskalasi menjadi konflik bersenjata yang lebih luas, terutama dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam mendukung Taiwan.