Sampah Medis Menumpuk Di Puskesmas Sanana Utara, Ini Penjelasan Kadinkes

Kadinkes SUla Suryati Abdullah saat diwawancara awak media di kantor DPRD Selasa (2/8/2022).

Transtimur.com Pemandangan tak sedap terlihat di puskesmas di Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Yaitu sampah-sampah medis yang menumpuk hingga kurang lebih satu Tahun.

Hal itu disebakan keterlambatan pengangkutan sampah medis oleh pihak ketiga selaku pengelola dan alat pembersih sampah medis sudah rusak.

Kepala Puskesmas Pohea, Sahlan Gailea Kepada Transtimur Media Group (TMG) Senin (1/8/2022).

Ia mengatakan, penyimpanan sampah medis tidak terpisah dengan bangunan utama tepatnya berada di ruangan kecil di sudut kiri bagian belakang gedung Puskesmas.

“Suda Medis ini sudah ada dari tahun lalu (2021) semenjak saya belum di lantik sebagai Kepala Puskesmas Sanana Utara. saya baru di lantik di bulan februari kemarin,”beber Sahlan.

Sahlan mengakui, sampah media tersebut sejak Tahun lalu hingga saat ini tidak pernah diangkut soalnya alat mengatasi limbah sampah medis sementara rusak dan saat ini masih dalam proses perbaikan.

Oleh karena itu, dirinya meminta pihak RSUD Sanana agar secepatnya mengatasi persoalan sampah Medis di Puskesmas Sanana Utara. Karena sampah yang ada diruang terbuka hanya dipagar kayu ini akan mencemari dan mengganggu warga setempat, pinta Sahlan.

Persolan tumpukan sampah Medis di Puskesmas Sanana Utara juga diakui oleh Kadis Kesehatan Kepulauan Sula, Suyati Abdulah

Menurut Suryati bahwa tumpukan sampah medis tersebut sudah ada sejak Tahun 2020 hingga 2022.

Hal itu disebakan karena mesin atau alat pembakar limbah medis atau pemusnah sampah medis insinetor (incinerator) rusak sejak Tahun 2020 lalu. Kerusakan alat pemusnah atau pembakar sampah medis disebabkan karena pemusnahan sampah medis Covid-19 melebihi kepasitas mesin.

“Sekarang insinetor itu sudah di perbaiki , jadi Bulan November Atau Desember 2022 mendatang baru kami dari dinas kesehatan akan melakukan pemusnahan sampah yang menumpuk di Puskesmas yang ada di kabupaten kepulauan Sula,”janji Suryati.

Suryati,menjelaskan bahwa sampa medis tidak bisa di buang sembarang tempat dan membakarnya harus mengunakan insinetor agar tidak membahayakan kesehatan masayarakat sekitar, tutup Suryati. (NH)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.