Sejarah ACT, Lembaga yang Diduga Lakukan Penyelewengan Dana Donasi Publik

Dugaan penyelewengan dana donasi publik oleh yayasan ACT (source: act.id)

transtimur.com — Berita penyelewengan dana donasi publik yang dilakukan oleh lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) tengah ramai dibicarakan.

Sebelumnya, Majalah Tempo mengungkap gaji dan fasilitas petinggi ACT yang nilainya fantastis yaitu, gaji Rp250 juta dan fasilitas mobil Toyota Alphard, Pajero Sport atau CR-V. Namun, sebenarnya apa itu ACT dan bagaimana sejarahnya?

Apa itu ACT?

Mengutip dari laman resmi act.id, Aksi Cepat Tanggap (ACT) adalah lembaga filantropi profesional berskala global yang merespon cepat masalah-masalah penyelamatan kemanusiaan melalui program-program yang kreatif, holistik dan massif.

Sejarah ACT

ACT diluncurkan secara resmi sebagai yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan pada 21 April 2005.

Berawal dari aksi tanggap darurat, lembaga ini lalu berkembang menjadi aksi program pemulihan pascabencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat dan Wakaf.

Dengan dukungan dari donatur dan partisipasi perusahaan lewat program kemitraan dan Corporate Social Responsibility (CSR), yayasan ini tumbuh menjadi lembaga penyalur donasi yang dipercaya.

Apalagi, ACT secara rutin memberikan laporan keuangan tahunan kepada donatur dan pemangku kepentingan lain yang dipublikasikan juga di media massa.

Hingga pada 2012 ACT bertransformasi menjadi lembaga kemanusiaan global dengan jangkauan aksi lebih luas.

Sejumlah program telah tersebar di 30 provinsi dan 100 Kabupaten/kota di Indonesia, baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT.

Selain itu, jangkauan aktivitas program global sudah sampai ke 22 Negara di kawas

Lembaga pengelola dana donasi non-pemerintah ini bergerak dalam tragedi kemanusiaan, seperti bencana alam, kelaparan dan kekeringan, konflik dan peperangan, termasuk penindasan terhadap kelompok minoritas berbagai negara.

Lalu, pada 2014 ACT mulai menjalin kolaborasi kemanusiaan global. Saat masa perkembangannya, pendiri ACT Ahyudin berhenti memimpin lembaga yang sudah dikelolanya selama 17 tahun pada 2021 lantaran konflik internal dan tudingan penyalahgunaan fasilitas serta gaji lembaga.

Susunan Manajemen ACT

Atas keluarnya Ahyudin, berikut susunan manajemen yang saat ini membina dan mengurus lembaga kemanusiaan tersebut.

Dewan Pembina

– Ketua : N Imam Akbari
– Anggota :

– Bobby Herwibowo, Lc

– Dr Amir Faishol Fath, Lc, MA

– Hariyana Hermain

Dewan Pengawas

– Ketua : H Sudarman, Lc

– Anggota : Sri Eddy Kuncoro

Pengurus

– Ketua : Ibnu Khajar

– Sekretaris : Sukorini

– Bendahara : Echwan Churniawan

Mitra ACT

Lembaga filantropi berskala global ini tentu sudah menggaet banyak mitra untuk bekerjasama guna melancarkan program-programnya. Baik itu dari perusahaan, organisasi, komunitas, maupun media.

Ada 70 lebih perusahaan yang bermitra dengan ACT, diantaranya Bank Indonesia, Kitabisa.com, Bank BNI, Bank BRI, Mandiri, Unilever, Pertamina, dan lainnya. Ada 90 lebih organisasi, diantaranya Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Rumah Zakat, BNPB, dan lainnya.

Selain itu, ACT juga bekerja sama dengan komunitas MTT dan lebih dari 50 media.

Program-program ACT

Sebagai lembaga penyalur donasi publik berskala global, ACT memiliki sejumlah program baik di Indonesia maupun di luar negeri, di antaranya:

1. Modal Usaha Mikro

2. Humanity Care Line

3. Bencana Nasional

4. Indonesia Darurat Solidaritas

5. Sahabat Umi

6. Selamatkan Bangsa

7. Gempa Lombok

8. Gempa Palu Sigi Donggala

9. Erupsi Semeru

10. Operasi Pangan Murah

Selain itu, program luar negeri yang dilakukan di antaranya Program Bantuan Musim Dingin di Yaman, Program Selamatkan Rohingnya, Program Selamatkan Syria, dan Program Rebut Kembali Palestina, serta Program Berkurban Tanpa Batas di berbagai belahan dunia.

Dari program-program tersebut, tercatat ada 46.979.646 penerima manfaat, 467.056 donatur, 357.747 relawan dan 76 negara jangkauan. (indotnesia.suara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.