Transtimur.com-Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda (OKP) Cipayung Plus melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Sula terkait dengan kenaikan harga BBM. RDP tersebut berlangsung di ruang rapat I pada Selasa (12/4/2022)
Ketua OKK KNPI Kepsul Falmin Daiyan mengatakan, PT. Sanana Lestari didga melakukan pembohongan publik terkait pembelian BBM jenis Minyak Tanah secara besar-besaran oleh konsumen. Sebab pembelian besar-besaran itu bukan konsumen tetapi pengecer,katanya.
Semntara untuk anggota Komisi II DPRD, Ramli Sade menjelaskan bahwa, BBM jenis Minyak Tanah subsidi yang harusnya di alokasikan kepada warga negara yang pendapatannya rata-rata ke bawah tidak berlaku, karena dimanfaatkan oleh mereka yang berpendapatan ekonomi menengah ke atas.
“Berkaitan dengan pangkalan minyak tanah bagaimana kita mau mengalokasikan satu desa satu pangkalan sementara ada desa yang pangkalannya ada 19,”Tukasnya.
Misalnya lanjut Ramli, Desa Mangon Kecamatan Sanana adalah desa dengan pangkalan minyak tanah terbanyak namun Desa Mangon juga adalah desa yang masyakarat paling sulit mendapatkan minyak tanah.

“Selain mangon, saya perlu sampaikan bahwa Desa Fagudu ada 9 pangkalan minyak tanah, desa Falahu 8 pangkalan, desa Fogi 12 pangkalan, desa Fatce 10 pangkalan dari 5 desa ini saja sudah 49 pangkalan,”Beber dia.
Ia melanjutkan, Kalau BBM bersubsidi sudah menumpuk di lima desa ini bagaimana dengan desa yg lain, tanya Bram sapaak akrab Ramli
Selain itu, Kabid perdagangan Disperindagkop Kepsul menyampaikan bahwa Jumlah pangkalan minyak tanah yang begitu banyak sudah ada sejak jaman Kepulauan Sula atau Sanana masih Kecamatan.
Perwakilan PT.Sanana Lestari mengatakan, soal suplai minyak tanah sudah sesuai kontrak dengan pihak pangkalan. Sementara untuk alokasi minyak ke PT. Sanana Lestari itu tergantung pada jumlah alokasi yang di berikan oleh PT. Pertamina.
“Untuk Sanana bulan Januari itu alokasi minyak sebesar 450 ton dan mengalami kenaikan di bulan Oktober 470 ton, kemudian pada bulan April dia turun lagi menjadi 460 ton,”Ungkap dia.
“Saya perlu tegaskan bahwa, PT. Sanana Lestari tidak menjual minyak ke pengecer tapi ke pangkalan, nanti dari pangkalan itulah terjadi transaksional yang menyebabkan harga minyak tanah mahal,”jelas perwakilan PT. Sanana Lestari.
Terpisah, Pihak SPBU menjelaskan, terkait kelangkaan minyak pertalite sebenarnya ada pada pilihan mahal dan murah jadi masyarakat semua lari ke yang lebih murah.
“itulah yang menyebabkan Minyak jenis pertalite mengalami kelangkaan,”Tutupnya.












