Limba Pertambangan Cemari Lingkungan, Ketua HPMWB Haltim Mita PT. Antam Tanggung Jawab

Transtimur.com – Lagi, aktivitas limba pertambangan, kembali mencemari lingkungan di Wilayah Halmahera Timur (Haltim), Provinsi Maluku Utara (Malut).

Limbah tersebut, diduga kuat berasal dari aktivitas pertambangan PT. Antam, yang saat ini beroperasi di Halmahera Timur.

Mirisnya, pihak PT. Antam terkesan diam tidak melakukan pemberitahuan informasi terhadap masyarakat Halmahera Timur terkhususnya wilayah yang terdampak.

Menanggapi hal ini, Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Wilayah Buli (HPMWB),  Halmahera Timur, Sisko Rijan, ketika di konfirmasi, menuturkan bahwa akibat dari tanggul pulau pakal yang bocor dan mornopo, sehingga limba dari aktivitas pertambangan keluar dan mencemari lingkungan.

“Padahal di wilayah sekitar adalah tempat aktivitas masyarakat terkhususnya nelayan lokal mencari kebutuhan hidupnya”, tutur Rijan.

Namun, lanjut dia, dengan adanya pencemaran lingkungan tersebut baik di sungai maupun di lautan bisa terjadi hal buruk, karna ikan dan hasil tangkapan lainnya diduga kuat akan mengandung Merkuri (Hg), karna merkuri yang ada di dalam tanah, air, dan udara relatif rendah, jelasnya.

Dia juga menjelaskan, berbagai aktivitas manusia dapat meningkatkan kadar merkuri menjadi tinggi. Misalnya, aktivitas penambangan yang menghasilkan merkuri sebanyak 10.000 ton per tahun. Selain itu merkuri juga memiliki resiko, dapat mengganggu berbagai organ tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh.

“Kami HPMWB Haltim menilai pihak perusahaan (PT.Antam), terkesan sengaja diam dan acuh tau terkait resiko persoalan pencemaran lingkungan ini”, ujar dia.

Maka dari itu, kami Himpunan Pelajar Mahasiswa Wilayah Buli (HPMWB), mendesak agar pihak perusahaan terkait (PT.Antam), secepatnya melakukan penanganan persoalan lingkungan dan juga menguji Lab sampel mulai dari air ikan dan lainya, dan PT. Antam sesegera mungkin harus melakukan pemberitahuan terkait bahayanya Merkuri (Hg), pada masyarakat dan nelayan yang sering menangkap atau memancing di seputaran wilayah terdampak, tegasnya.(fai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *