Oleh: Mohtar Umasugi
Perjalanan, dalam pengalaman manusia, tidak pernah sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain. Ia adalah peristiwa eksistensial—mengandung harapan, kecemasan, sekaligus doa yang tak selalu terucap. Di banyak komunitas, termasuk dalam realitas sosial masyarakat Kepulauan Sula, perjalanan seringkali diawali dengan ritual tertentu. Dari doa bersama, membaca ayat-ayat suci, hingga praktik-praktik yang berakar pada keyakinan magis—semuanya hadir sebagai bentuk ikhtiar manusia dalam menghadapi ketidakpastian.
Di titik inilah, kita dihadapkan pada dua dimensi yang sering berjalan beriringan: ikhtiar rasional dan keyakinan magis. Dalam perspektif keagamaan, ritual sebelum perjalanan merupakan bentuk tawakkal yang didahului oleh ikhtiar. Membaca doa safar, bersedekah, atau meminta restu orang tua adalah praktik yang memiliki landasan normatif dalam Islam.
Secara sosiologis, praktik ini dapat dipahami sebagai upaya manusia dalam memberi makna atas situasi yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan. Ketika seseorang akan menempuh perjalanan jauh ( terutama dalam konteks geografis kepulauan seperti Sula ) maka doa menjadi instrumen psikologis sekaligus spiritual untuk menenangkan diri. Ritual dalam konteks ini bukanlah irasional, melainkan mekanisme adaptif yang memperkuat mental, menumbuhkan optimisme, dan menghadirkan rasa perlindungan.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian praktik ritual juga bersinggungan dengan keyakinan magis seperti penggunaan simbol tertentu, penafsiran tanda alam, atau kebiasaan turun-temurun yang tidak selalu memiliki dasar teologis yang kuat.
Dalam perspektif Antropologi Budaya, hal ini merupakan bagian dari living tradition warisan yang hidup dan terus direproduksi oleh masyarakat. Namun, dalam kerangka keimanan, diperlukan sikap kritis agar keyakinan tetap bertumpu pada tauhid, bukan pada simbol atau benda.
Gabalil Hai Sua tidak sekadar sebuah perayaan budaya. Ia adalah ritual kolektif yang merepresentasikan perjalanan sejarah, identitas, dan harapan masyarakat Kepulauan Sula. Dalam setiap pelaksanaannya, Gabalil Hai Sua mencerminkan kerja kolektif masyarakat, harapan akan keberkahan dan keselamatan, serta semangat menjaga warisan leluhur. Ia adalah bentuk ikhtiar bersama bukan hanya dalam arti teknis penyelenggaraan, tetapi juga dalam dimensi spiritual dan kultural.
Namun demikian, sebagaimana tradisi lainnya, Gabalil Hai Sua juga menjadi ruang dialektika antara nilai agama dan budaya lokal. Meminjam kerangka Antonio Gramsci, fenomena ini dapat dipahami sebagai proses negosiasi antara tradisi dan kesadaran religius masyarakat.
Dalam konteks ini, Gabalil Hai Sua perlu terus diarahkan sebagai ekspresi budaya yang selaras dengan nilai-nilai spiritual, ruang edukasi bagi generasi muda, serta simbol identitas yang tidak tercerabut dari prinsip keimanan. Peran tokoh agama, intelektual, dan pemerintah daerah menjadi penting dalam menjaga keseimbangan ini agar tradisi tetap hidup tanpa kehilangan arah nilai.
Dalam seluruh rangkaian pelaksanaan Gabalil Hai Sua, kita patut menyadari bahwa keberhasilan kegiatan ini bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Ia adalah hasil dari kerja kolektif yang penuh dedikasi dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia penyelenggara yang telah bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Di balik kemeriahan yang tampak, terdapat kerja-kerja sunyi yang memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan bermakna.
Apresiasi yang sama juga patut diberikan kepada seluruh peserta dan kontingen Gabalil Hai Sua yang telah berpartisipasi aktif. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pelengkap acara, tetapi sebagai penjaga denyut tradisi yang terus hidup di tengah arus perubahan zaman.
Lebih dari itu, partisipasi kolektif ini menegaskan bahwa Gabalil Hai Sua adalah milik bersama, tumbuh dari kebersamaan, dirawat oleh gotong royong, dan diwariskan sebagai identitas kultural masyarakat Kepulauan Sula.
Pada akhirnya, Gabalil Hai Sua adalah cermin dari perjalanan masyarakat Sula itu sendiri. Ia bukan hanya tentang tradisi, tetapi tentang bagaimana masyarakat memaknai ikhtiar, menjaga keyakinan, dan merawat warisan leluhur.
Di tengah dinamika zaman, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah tradisi ini akan tetap menjadi jalan menuju nilai-nilai luhur, atau justru kehilangan arah? Jawabannya terletak pada kesadaran kolektif kita—bahwa setiap perjalanan, baik individu maupun budaya, harus berpijak pada keseimbangan antara tradisi, rasionalitas, dan spiritualitas yang murni.
Karena sejatinya, yang kita rawat dalam Gabalil Hai Sua bukan hanya budaya, tetapi juga makna, keyakinan, dan masa depan peradaban masyarakat Kepulauan Sula.












