Oleh:
Mohtar Umasugi
Suasana kampus STAI Babussalam Sula di Sanana terasa berbeda di tahun 2025 ini. Di antara deretan gedung sederhana dan wajah-wajah mahasiswa yang penuh semangat, ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Bukan tanpa alasan — tahun ini, kampus yang selama ini dikenal dengan semangat keilmuan berbasis lokal itu berhasil mencatatkan sejarah baru: melahirkan tiga doktor sekaligus.
Mereka adalah Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I., Dr. Asrianti Sukirman, S.H., M.H., dan Dr. Mohtar Umasugi, S.Ag., M.Pd.I. Tiga sosok akademisi yang menempuh perjalanan panjang di dunia pendidikan hingga akhirnya berhasil meraih gelar tertinggi dalam dunia akademik.
Lebih membanggakan lagi, di tahun 2026 mendatang, STAI Babussalam dipastikan akan menambah tiga doktor baru yang kini tengah menyelesaikan tahap akhir studi doktoral mereka. Dengan begitu, dalam dua tahun berturut-turut, kampus ini akan memiliki enam doktor aktif — sebuah prestasi luar biasa bagi perguruan di Sula.
Capaian ini bukan hasil kebetulan. Di baliknya ada dedikasi, perjuangan, dan budaya akademik yang mulai tumbuh kuat di lingkungan STAI Babussalam. Kampus ini kini terus bertransformasi dengan langkah-langkah konkret yakni; Mendorong dosen untuk aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, Memperkuat jejaring kerja sama akademik di dalam dan luar Maluku Utara, Dan menanamkan nilai keislaman dan kemasyarakatan dalam setiap aktivitas akademik.
Inilah bentuk kemajuan akademik yang berbasis data dan capaian nyata, bukan sekadar seremoni atau pencitraan. STAI Babussalam perlahan menjelma menjadi poros baru pendidikan tinggi Islam di bagian selatan Maluku Utara.
Ketua Yayasan Babussalam Sanana, H. Abd. Rahman Kharie, S.Ag., M.Pd.I, mengapresiasi capaian ini sebagai bukti nyata kebangkitan intelektual di daerah.
“Kelahiran para doktor dari STAI Babussalam adalah tanda bahwa Sula tidak kekurangan orang cerdas. Yang kita butuhkan adalah ekosistem pendidikan yang mendukung. Pendidikan tinggi di Sula sedang tumbuh, tinggal bagaimana Pemda ikut memberikan ruang dan perhatian,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua STAI Babussalam Sula, Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa capaian ini bukan akhir, melainkan awal dari visi besar kampus dalam memperkuat kontribusi keilmuan dan sosial.
“Kami ingin STAI Babussalam menjadi pusat keilmuan Islam yang berada di lokal, tapi berpikir global. Doktor yang lahir dari kampus ini bukan untuk menambah gelar, tapi memperkuat peran akademik dalam membangun Sula,” ujarnya.
Meski STAI Babussalam menunjukkan kemajuan pesat, perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Sula dinilai masih minim. Padahal, lembaga ini merupakan aset strategis daerah yang berperan penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul.
Sudah saatnya Pemda menempatkan STAI Babussalam sebagai mitra utama pembangunan daerah, bukan sekadar pelengkap kebijakan pendidikan. Dukungan berupa beasiswa, infrastruktur akademik, serta kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat akan sangat membantu mempercepat transformasi kampus ini menjadi perguruan tinggi unggul dan berdaya saing.
Tiga doktor di tahun 2025 dan tiga lagi yang akan menyusul di 2026 bukan sekadar angka — ini adalah simbol kemajuan nyata pendidikan tinggi di Kepulauan Sula. Jika langkah ini terus dikawal dengan baik, STAI Babussalam Sula berpotensi menjadi ikon pendidikan Islam di Maluku Utara bagian selatan.
Sula kedepan tidak hanya dikenal karena laut dan alamnya yang indah, tetapi juga karena peradaban ilmunya yang sedang tumbuh. Sebuah tanda bahwa daerah kecil pun mampu melahirkan karya besar — selama ada komitmen, dukungan, dan kepemimpinan akademik yang visioner.












