Opini  

STAI Babussalam Sula Mendorong Dosen Program S3

Oleh: 

Mohtar Umasugi

Dalam dinamika pembangunan pendidikan tinggi, salah satu indikator kualitas perguruan tinggi adalah tingkat kualifikasi dosennya. STAI Babussalam Sula Maluku Utara sebagai satu-satunya kampus keagamaan Islam di daerah ini tidak bisa sekadar bertahan pada status quo, tetapi harus bergerak maju dengan strategi peningkatan mutu sumber daya manusia. Salah satu langkah mendesak adalah mendorong para dosennya untuk melanjutkan studi ke jenjang program Pascasarjana Strata Tiga (S3).

Dorongan ini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan kebutuhan strategis. Pertama, dosen dengan kualifikasi doktoral akan memperkuat legitimasi keilmuan STAI Babussalam di mata publik akademik. Kampus kecil yang sering diasumsikan “pinggiran” bisa mengimbangi kampus besar jika memiliki tenaga pendidik dengan kompetensi akademik mumpuni. Kedua, kualifikasi S3 memungkinkan terbentuknya kultur riset yang lebih kuat. Selama ini, riset di kampus daerah seringkali hanya sebatas memenuhi syarat administrasi, padahal riset adalah jantung perguruan tinggi.

Selain itu, keberadaan dosen doktor juga akan mempercepat transformasi institusi. Dalam perspektif regulasi, Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menekankan bahwa kualifikasi dosen menjadi faktor penentu akreditasi. Jika STAI Babussalam mampu melahirkan dosen-dosen doktor, maka akreditasi institusi maupun program studi dapat meningkat, membuka jalan menuju status yang lebih prestisius di masa depan.

Fakta terbaru memperlihatkan langkah maju yang signifikan. Pada tahun 2025, STAI Babussalam Sula telah melahirkan tiga doktor (DR) baru dari berbagai bidang keilmuan. Kehadiran mereka bukan hanya menambah jumlah dosen bergelar doktor, tetapi juga menegaskan keseriusan kampus dalam membangun pondasi akademik yang kokoh. Lebih menggembirakan lagi, pada tahun 2026, diproyeksikan akan ada tambahan tiga doktor lagi yang segera menyelesaikan studi mereka. Artinya, dalam kurun dua tahun saja, kampus ini berhasil menggandakan jumlah tenaga pendidik berkualifikasi doktoral.

Yang menarik, dari total enam doktor tersebut, satu orang berhasil menyelesaikan studi melalui jalur mandiri, sementara lima orang lainnya mendapatkan dukungan beasiswa penuh dari STAI Babussalam Sula Maluku Utara. Fakta ini menunjukkan bahwa di satu sisi ada dedikasi personal yang luar biasa, dan di sisi lain ada keberpihakan institusi yang serius dalam mendukung pengembangan kualitas akademik dosen. Perpaduan antara perjuangan mandiri dan kebijakan beasiswa inilah yang mempercepat lahirnya tenaga pendidik berkualifikasi tinggi di kampus ini.

Dengan langkah tersebut, STAI Babussalam memberi teladan bahwa transformasi perguruan tinggi di daerah bukan mustahil. Jika ada keberpihakan institusi, dukungan finansial, dan visi akademik yang jelas, maka peningkatan kualitas dosen bisa terwujud dengan lebih cepat.

Bagi masyarakat Sula, keberadaan dosen-dosen doktor di STAI Babussalam bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi juga jaminan bahwa anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa harus jauh merantau. Dengan begitu, kampus ini tidak hanya menjadi rumah peradaban, tetapi juga pusat mobilitas sosial yang membuka peluang baru bagi daerah.

Akhirnya, saya meyakini bahwa mendorong dosen program Pascasarjana S3 adalah investasi jangka panjang. Pencapaian tiga doktor pada tahun 2025, tambahan tiga doktor pada tahun 2026, serta kombinasi antara perjuangan mandiri dan beasiswa institusi, adalah bukti konkret bahwa investasi ini mulai membuahkan hasil. Mungkin hasilnya tidak instan, tetapi dalam 5–10 tahun ke depan, inilah yang akan menjadi fondasi kuat bagi STAI Babussalam untuk benar-benar tampil sebagai kampus Islam unggulan di Maluku Utara.