Oleh: Mohtar Umasugi
TIGA malam menemani Dede ( sapaan akrab anak ku ) yang terbaring di RSUD Sanana, selain dari kesibukan mengambil obat di apotik sesuai resep dokter juga kebutuhan lain sebagaimana lazim melayani keluarga yang sedang rawat nginap. Ketika Dede istrahat dan ditemani ibunya, saya kemudian mencuri waktu untuk ngopi di warung depan RSUD Sanana.
Di samping warung itu ada tempat santai yang dijadikan pangkalan tukang ojek, saya kemudian memanfaatkan tempat santai (pangkalan ojek) dimaksud untuk ngopi dan membaca berita di media online, saat itulah saya mendengar cerita para tukang ojek.
Kata seorang tukang ojek: setiap hari, saya dan rekan-rekan sesama tukang ojek berkumpul di pangkalan ojek depan RSUD Sanana. Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana kami berjuang mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit. Namun, belakangan ini, obrolan kami di pangkalan lebih sering berisi keluhan—tentang pendapatan yang turun drastis, sepinya penumpang, dan tekanan biaya hidup yang semakin berat.
Dulu, dari pagi hingga sore, kami bisa mendapatkan beberapa penumpang yang cukup untuk menutupi kebutuhan harian. Namun sekarang, menunggu berjam-jam belum tentu ada yang menyewa jasa kami. Banyak masyarakat yang kini lebih memilih berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi karena sulitnya ekonomi. Ditambah lagi, semakin banyaknya ojek baru membuat persaingan semakin ketat.
Yang paling memberatkan kami adalah harga BBM yang terus naik, sementara tarif ojek tidak bisa serta-merta kami naikkan. Jika kami menaikkan tarif Rp.10.000, penumpang justru kabur. Jika tetap bertahan dengan tarif lama Rp 5.000, penghasilan yang kami dapat tidak cukup untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak.
Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan, hanya berharap ada perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula. Misalnya, adanya program subsidi BBM bagi tukang ojek atau bantuan lain yang bisa meringankan beban kami. Selain itu, kami juga berharap adanya kebijakan yang bisa meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga perputaran ekonomi kembali normal dan jumlah penumpang bertambah.
Kami hanyalah rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari kendaraan roda dua ini. Kami berharap Pemda tidak menutup mata terhadap kondisi kami. Setidaknya, ada kebijakan yang berpihak kepada kami, agar kami tetap bisa bertahan dan menghidupi keluarga dengan layak.












