Kopi Pagi: HUT Kemerdekaan RI Ke 80 Tahun, Kepulauan Sula Butuh Gagasan Visioner

Oleh:

Mohtar Umasugi

Kopi pagi kali ini terasa lebih hangat, bukan karena suhu airnya, tetapi karena pikiran saya melayang pada makna kemerdekaan yang akan memasuki usia 80 tahun. Usia yang bagi sebuah bangsa seharusnya menandai kematangan visi dan konsistensi arah pembangunan. Namun di Kabupaten Kepulauan Sula, perayaan HUT RI masih cenderung terjebak pada simbol-simbol seremonial yang berulang dari tahun ke tahun—pawai, lomba, panggung hiburan—tanpa narasi besar tentang masa depan.

Dalam kerangka teori pembangunan daerah, perayaan kenegaraan seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum agenda setting. Artinya, momen HUT RI menjadi media untuk memperkuat visi pembangunan, membangun kesadaran publik, serta mengonsolidasikan komitmen antar pemangku kepentingan.

Kondisi Sula saat ini menunjukkan:

  1. Ketimpangan Infrastruktur – Akses antar kecamatan belum merata, terutama di wilayah pulau-pulau kecil.
  2. Keterbatasan Layanan Publik – Sektor pendidikan dan kesehatan masih menghadapi kendala kualitas dan distribusi tenaga.
  3. Daya Saing Ekonomi Rendah – Potensi perikanan, pertanian, dan pariwisata belum dimanfaatkan maksimal.
  4. Kurangnya Platform Inovasi Daerah – Minim ruang bagi warga, terutama generasi muda, untuk menyalurkan ide dan solusi.

Visi pembangunan tidak boleh berhenti pada RPJMD lima tahunan. Untuk HUT RI ke-80, diperlukan kerangka pikir Sula 2045—peta jalan jangka panjang menuju Sula yang maju, berdaya saing, dan mandiri.

Gagasan visioner ini mencakup:

  • Transformasi Perayaan – Pawai dan lomba diganti dengan festival inovasi daerah, di mana sekolah, desa, dan pelaku usaha memamerkan ide kreatif.
  • Forum Masa Depan Sula – Malam resepsi kenegaraan diubah menjadi diskusi publik dengan pakar dan tokoh inspiratif.
  • Peluncuran Dokumen Sula 2045 – Rencana jangka panjang yang menjadi kontrak sosial lintas pemerintahan dan masyarakat.

Mengacu pada konsep transformational leadership (Bass, 1990), pemimpin visioner mampu memanfaatkan momen strategis untuk membangun harapan kolektif dan menggerakkan perubahan. Dalam konteks Sula, momentum HUT RI ke-80 adalah kesempatan untuk memadukan nilai sejarah dengan target pembangunan masa depan.

Selain itu, teori community-driven development menekankan pentingnya melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan. Artinya, gagasan visioner harus lahir dari dialog antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan warga.

Merujuk pada teori community-driven development, setidaknya ada empat hal penting yang menjadi tawaran inovasi gagasan Visioner diantaranya:

  1. Inisiasi Sula 2045 – Pemerintah daerah membentuk tim lintas sektor untuk menyusun peta jalan pembangunan jangka panjang.
  2. Rebranding Perayaan HUT RI – Menggabungkan unsur budaya, inovasi, dan pendidikan ke dalam rangkaian acara.
  3. Forum Gagasan Tahunan – Setiap HUT RI diisi dengan panel diskusi yang membahas capaian dan tantangan pembangunan.
  4. Monitoring Partisipatif – Masyarakat dilibatkan dalam memantau implementasi visi yang disepakati.

Kopi pagi saya kali ini meninggalkan kesadaran bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan proses panjang membangun masa depan bersama. Jika HUT RI ke-80 di Sula hanya diwarnai gegap gempita tanpa gagasan visioner, kita sedang menyia-nyiakan momentum sejarah. Sula membutuhkan lebih dari sekadar meriah—Sula membutuhkan keberanian bermimpi besar dan konsistensi mewujudkannya, bukan menghadirkan penyanyi serta mengeluarkan biaya besar dengan dalih menghibur masyarakat tetapi tidak menimbulkan dampak kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat itu sendiri.