Mengayuh di Tengah Abainya Pemda

Oleh: Mohtar Umasugi

Kata Pembuka, Pendidikan tinggi merupakan salah satu elemen utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM). Di era disrupsi saat ini, daerah yang memiliki akses pendidikan tinggi yang baik akan lebih kompetitif dalam menghadapi tantangan sosial-ekonomi.

Sayangnya, tidak semua daerah memiliki perhatian yang cukup terhadap pengembangan perguruan tinggi, termasuk di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Demikian potret kelam yang menyelimuti salah satu institusi pendidikan tinggi bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, yang sedang mengayuh dalam keterbatasannya.

Minimnya perhatian dan dukungan Pemerintah Daerah–selanjutnya disebut PEMDA– Kepulauan Sula terhadap STAI Babussalam Sula menjadi isu krusial yang patut disoroti. Perguruan tinggi ini, yang seharusnya menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, justru harus berjuang sendiri dengan sumber daya yang terbatas.

Keadaan ini memunculkan pertanyaan fundamental; sejauh mana komitmen PEMDA dalam mendukung pengembangan pendidikan tinggi?

Idealnya, PEMDA sebagai etalase pembangunan SDM di level daerah, memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan dan kualitas pendidikan tinggi di daerahnya. Tanpa sinergi antara pemerintah dan institusi pendidikan, kesenjangan dalam pembangunan SDM akan semakin lebar. Demikian penegasan Prof. Arief Rahman, seorang pakar pendidikan nasional dalam artikelnya.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak dapat berkembang tanpa adanya intervensi dan kebijakan yang mendukung dari pemerintah daerah, apalagi pendidikan tinggi tersebut dikelola oleh mereka yang hanya bermodalkan daya juang untuk membebaskan masyarakat dari ancaman keterbelakangan, sebagaimana dilakoni oleh STAI Babussalam Sula.

Padahal dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, STAI Babussalam Sula telah menjalankan fungsi akademiknya dalam memproduksi ribuan sarjana bagi generasi muda Kepulauan Sula, sekaligus mencetak banyak pemimpin, kelompok profesional, dan akademisi yang berkontribusi bagi pembangunan daerah. Oleh karena itu, ketidakpedulian PEMDA terhadap perguruan tinggi ini dapat berdampak besar terhadap masa depan pendidikan di Kepulauan Sula.

STAI Babussalam Sula: Mengayuh Harapan dalam Keterbatasan

Sebagai satu-satunya perguruan tinggi berbasis Islam di Kepulauan Sula, STAI Babussalam Sula memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat setempat. Namun, harapan tersebut sering kali berbenturan dengan realitas keterbatasan yang dihadapi oleh institusi ini.

Mulai dari minimnya fasilitas, tenaga pengajar dan tenaga kependidikan, hingga keterbatasan dana operasional, semua menjadi tantangan berat yang harus dihadapi setiap tahunnya. Demikian pula infrastruktur dasar seperti ruang kelas yang belum berstandar nasional, perpustakaan dengan koleksi buku yang terbatas, serta laboratorium yang tidak sesuai dengan standar pendidikan tinggi.

Seyogyanya dari aspek regulasi, banyak dasar hukum yang memungkinkan PEMDA Kepulauan Sula dalam merumuskan dukungan kebijakan terhadap tata kelola pendidikan tinggi di daerah.

Beberapa diantaranya, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang begitu jelas mewajibkan peran serta PEMDA Kepulauan Sula untuk mendukung perguruan tinggi peningkatan mutu perguruan tinggi. Demikian pula Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah juga mengatur bahwa pendidikan merupakan salah satu urusan wajib yang harus diperhatikan oleh pemerintah daerah. Bahkan lebih teknis, terhadap perguruan tinggi keagaman seperti di STAI Babussalam, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agama RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mendorong penguatan pendidikan tinggi berbasis keagamaan sebagai bagian dari strategi pembangunan Nasional. Salah satu kebijakan utama adalah memberikan bantuan operasional dan pengembangan institusi pendidikan Islam. Akan tetapi efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada implementasi di tingkat daerah.

Meskipun demikian, sejumlah dukungan regulasi ini belum sepenuhnya dijalankan secara optimal oleh PEMDA Kepulauan Sula. Nampaknya regulasi tersebut hanyalah tumpukan narasi yang sulit diimplementasi dalam pengembangan STAI Babussalam Sula. Minimnya keseriusan dan keberpihakanP EMDA terhadap pengembangan kampus ini, menunjukkan bahwa PEMDA masih mengesampingkan sektor pendidikan tinggi sebagai prioritas pembangunan Kabupaten Kepulauan Sula.

Tidak mungkin STAI Babussalam Sula mewujudkan harapan untuk menjadi lokomotif peradaban di Kepulauan Sula, jika tidak dibarengi dengan tindakan kongkrit pemerintah yang lebih berpihak. Sebab kualitas pendidikan tinggi sangat bergantung pada tiga pilar utama: fasilitas, tenaga pengajar, dan dukungan kebijakan. Tanpa salah satu dari ketiga faktor ini, perguruan tinggi akan kesulitan berkembang. Minimnya perhatian dari Pemda menyebabkan perguruan tinggi ini harus mencari sumber pendanaan sendiri untuk operasionalnya, yang tentu tidak mudah di daerah dengan keterbatasan ekonomi. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tidak dapat dipungkiri, bahwa hal tersebut akan menjadi ancaman bagi kelangsungan pengembangan STAI Babussalam Sula ke depan.

Sinergi Pemda dan Pendidikan Tinggi: Mengapa Ini Penting?

Di berbagai daerah lain di Indonesia, sinergi antara PEMDA dan perguruan tinggi telah terbukti membawa dampak positif bagi pembangunan daerah. Sebutlah misalnya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung perguruan tinggi swasta yang memiliki peran strategis dalam pembangunan SDM daerah. Dengan adanya kebijakan ini, perguruan tinggi dapat berkembang lebih pesat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Mengapa ini penting dilakukan, karena menurut Muhadjir Effendy, perguruan tinggi adalah investasi jangka panjang bagi daerah. Jika Pemda tidak berkontribusi dalam pengembangannya, maka daerah tersebut akan kehilangan kesempatan untuk mencetak SDM unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global. Oleh karenanya, dibutuhkan sinergitas PEMDA Kepulauan Sula untuk sesegera mungkin merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada pengembangan STAI Babussalam Sula, sebagai wujud tanggung jawab pemerintah terhadap kelangsungan penyelenggaraan dan capaian mutu pendidikan tinggi di Kepulauan Sula.

Tanpa adanya sinergi yang kuat antara Pemda dan STAI Babussalam Sula, maka sulit bagi perguruan tinggi ini untuk berkembang. Wujud kebijakan yang lebih konkret dapat dilakukan melalui pemberian dana hibah, bantuan beasiswa bagi mahasiswa, serta pembangunan infrastruktur kampus yang memadai agar perguruan tinggi ini dapat menjalankan perannya dengan lebih baik. Tanpa adanya kebijakan afirmatif dari PEMDA untuk mendukung ketersediaan kebutuhan dasar serta peningkatan kualitas belajar, maka sulit bagi STAI Babussalam Sula untuk berdaya saing dengan perguruan tinggi lain di Indonesia.

Dampak Jangka Panjang dari Minimnya Dukungan Pemda. 

Minimnya dukungan PEMDA terhadap STAI Babussalam Sula, berpotensi memberikan dampak negatif dalam jangka panjang, baik bagi institusi pendidikan itu sendiri maupun bagi masyarakat Kepulauan Sula secara luas. Pendidikan tinggi memiliki peran krusial dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing. Ketika institusi pendidikan tidak mendapat perhatian yang cukup, maka laju pertumbuhan intelektual daerah akan melambat. Hal ini dapat menghambat upaya menciptakan generasi yang unggul dan mampu bersaing dalam dunia kerja maupun di sektor lainnya.

Salah satu dampak yang paling nyata adalah berkurangnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di daerah sendiri. Kurangnya fasilitas, dukungan beasiswa, serta keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas dapat berpengaruh bagi keputusan masyarakat untuk kuliah di STAI Babussalam. Kongkritnya, jika fenomena ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan STAI Babussalam Sula akan mengalami stagnasi dalam perkembangan akademiknya, bahkan bisa mengalami penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan. Sebagaimana ungkapan Prof. Anwar Sanusi, institusi pendidikan yang tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah akan kesulitan berkembang, dan pada akhirnya bisa kehilangan relevansinya dalam sistem pendidikan Nasional.

Pada aspek yang lebih ril, minimnya dukungan PEMDA dapat berimbas pula pada ketergantungan pasokan tenaga kerja dari luar daerah. Tanpa adanya lembaga pendidikan tinggi yang berkembang dan berdaya saing, peluang kerja yang ada di Kepulauan Sula akan lebih banyak diisi oleh lulusan dari luar daerah. Akibatnya, potensi lokal yang sebenarnya bisa dikembangkan justru terpinggirkan. Padahal, pendidikan tinggi yang kuat di daerah akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan, karena SDM yang dilahirkan mampu berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.

Lebih jauh lagi, kurangnya investasi dalam pendidikan tinggi juga akan mempengaruhi inovasi dan penelitian di daerah. Perguruan tinggi merupakan pusat riset dan inovasi yang bisa menjadi motor penggerak pembangunan. Jika STAI Babussalam Sula tidak mendapatkan dukungan yang layak, maka kesempatan untuk mengembangkan penelitian berbasis kearifan lokal dan sumber daya daerah akan semakin terbatas. Hal ini akan menghambat potensi daerah dalam berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis kebutuhan masyarakat lokal.

Rekomendasi Konkrit Agar STAI Babussalam Sula dapat berkembang secara optimal dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Kepulauan Sula, diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat meningkatkan sinergi antara Pemda dan institusi pendidikan ini. Salah satu langkah utama adalah memastikan alokasi anggaran daerah untuk mendukung perguruan tinggi. Pemda perlu mengalokasikan dana yang memadai untuk meningkatkan sarana dan prasarana, memberikan insentif bagi tenaga pengajar berkualitas, serta menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Selain alokasi anggaran, Pemda juga perlu menyusun kebijakan afirmasi bagi perguruan tinggi lokal. Salah satu bentuk kebijakan ini adalah dengan memberikan insentif bagi lulusan STAI Babussalam Sula untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah, baik melalui rekrutmen di sektor pemerintahan maupun kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Bambang Sudibyo dalam hal ini menegaskan, pendidikan tinggi harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan daerah, bukan sekadar institusi yang berdiri sendiri. Sinergi antara Pemda dan perguruan tinggi akan menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Langkah lain yang perlu dilakukan adalah membangun kemitraan strategis antara STAI Babussalam Sula dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, organisasi non-pemerintah, serta perguruan tinggi lainnya. Dengan membangun jaringan kerja sama yang lebih luas, institusi ini dapat memperoleh dukungan tambahan dalam bentuk pendanaan, program pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kesempatan riset bersama yang relevan dengan kebutuhan daerah.

PEMDA juga harus lebih aktif dalam membuka ruang dialog dengan pihak STAI Babussalam Sula. Komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan akan membantu merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Melalui forum diskusi dan musyawarah rutin, PEMDA dapat memahami kebutuhan nyata dari perguruan tinggi dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Akhir Kata, masyarakat juga harus dilibatkan dalam upaya memperkuat keberadaan STAI Babussalam Sula. Kampanye tentang pentingnya pendidikan tinggi serta peran strategis perguruan tinggi dalam membangun daerah harus diperkuat. Kesadaran kolektif ini akan membantu menciptakan tekanan positif bagi PEMDA agar lebih peduli terhadap sektor pendidikan. Ketika masyarakat melihat pendidikan sebagai investasi utama dalam pembangunan, maka pemerintah akan lebih terdorong untuk menjadikannya sebagai prioritas.

Dengan sinergi yang lebih erat antara Pemda, STAI Babussalam Sula, dan masyarakat, maka pendidikan tinggi di Kepulauan Sula dapat berkembang dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masa depan daerah. Dukungan yang berkelanjutan akan memastikan bahwa institusi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi pusat keunggulan akademik yang mampu mencetak generasi unggul bagi bangsa dan negara.