Intermediate Training Tingkat Nasional Dan Kader Visioner

Oleh: Mohtar Umasugi 

(Alumni HMI)

Di ujung timur Indonesia, di sebuah pulau kecil bernama Sanana, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sanana menggelar Intermediate Training Tingkat Nasional (Latihan Kader II). Sekilas, ini hanyalah kegiatan rutin organisasi mahasiswa.

Namun bagi saya, seorang Alumni HMI, ini adalah momen bersejarah “Dari pulau yang nyaris tak terlihat di peta politik nasional, bisa lahir kader visioner yang menulis gagasan untuk bangsa”.

Hari ini, Indonesia membutuhkan pemimpin muda yang tidak hanya berteriak, tapi juga menulis sejarahnya sendiri. Sebab bagi seorang kader visioner, menulis itu jenius: gagasan yang ditulis akan hidup lebih lama daripada orasi yang diucapkan.

Intermediate Training bukan sekadar forum menerima materi. Ini laboratorium kepemimpinan dan konsepsi intelektual. Di sinilah seorang kader seharusnya:

  1. Mampu membaca realitas lokal dan nasional secara tajam.
  2. Membangun gagasan yang konsepsional dan terukur.
  3. Menuliskannya, agar gagasan tidak mati di ruang diskusi.

Saya percaya, seluruh peserta dan kader HMI Cabang Sanana yang visioner harus mulai meninggalkan jejak dengan tulisan: opini di media, makalah kebijakan, atau bahkan buku yang mengangkat isu-isu pinggiran seperti ekonomi maritim, infrastruktur kepulauan, dan ketimpangan pembangunan di Indonesia Timur. “Bangsa besar dibangun dari gagasan yang ditulis, bukan hanya diteriakkan”.

Indonesia hari ini menghadapi tantangan besar: ketimpangan pembangunan, politik pragmatis, dan bonus demografi yang berpotensi menjadi bencana pengangguran pemuda.

Di tengah itu semua, suara dari pinggiran nyaris tak terdengar. Padahal, jika kader HMI dari pulau-pulau kecil seperti Sanana menulis gagasan konseptual tentang solusi, maka pusat akan mendengar.

Menulis bukan hanya soal literasi, tapi strategi politik peradaban. Tulisan yang lahir dari forum Intermediate Tingkat Nasional di Sanana bisa menjadi:

  • Sumber advokasi kebijakan untuk pembangunan Maluku Utara.
  • Referensi nasional tentang pengelolaan potensi ekonomi laut.
  • Inspirasi gerakan pemuda di pinggiran agar tidak terjebak menjadi penonton sejarah.

Sebagai Alumni HMI, saya menyaksikan betapa tradisi menulis di tubuh HMI mulai pudar. Banyak kader hebat di forum lisan, tapi lenyap di ruang publik karena tidak menulis.

Intermediate Training ( LK II ) Tingkat Nasional di Sanana adalah kesempatan untuk menghidupkan kembali tradisi literasi kader HMI. Alumni harus hadir bukan hanya di sesi pembukaan, tapi juga:

  1. Mendorong kader menghasilkan tulisan konseptual.
  2. Membimbing karya mereka hingga layak dibaca publik nasional.
  3. Membuka jejaring agar suara dari Sula bisa terdengar di Jakarta.

Tradisi menulis inilah yang akan mengembalikan HMI ke marwahnya sebagai laboratorium pemimpin bangsa.

Intermediate Training Tingkat Nasional di Sanana bukan sekadar seremoni. Ini adalah titik awal lahirnya kader visioner yang menulis sejarahnya sendiri. Sebab pemimpin besar selalu meninggalkan jejak, dan jejak paling abadi adalah tulisan.

Jika setiap kader dari pulau kecil ini berani menulis, maka dari Sanana bisa lahir gagasan untuk Indonesia. Dari pinggiran, suara kader-kader HMI akan bergema ke pusat, membuktikan bahwa menulis itu bukan hanya jenius, tapi juga jalan menuju sejarah.

Yakin, usaha, sampai (Yakusa) Billahi Taufiq Wal hidayah, Wasalamualaikum, warahmatulalahi Wabarakatu.