Rupiah Tertekan ke Level 16.400: Ekonom Prediksi Kenaikan Suku Bunga dan Intervensi BI

Jakarta,transtimur.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan menembus level 16.400 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), kekhawatiran terhadap defisit fiskal Indonesia, dan sentimen global.

Ekonom Universitas Indonesia sekaligus Senior Ekonom Samuel Sekuritas, Fithra Faisal, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini merupakan kombinasi dari faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi (higher for longer) menekan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ketika The Fed mempertahankan suku bunganya di level tinggi, maka akan ada risiko capital outflow dan menciptakan tekanan pada nilai tukar,” jelas Fithra yang dikutip pada Selasa (18/6/2024)

Di sisi internal, kekhawatiran terhadap defisit fiskal Indonesia di masa depan menjadi faktor penekan rupiah. Fitch dan Moody’s sebelumnya telah memperingatkan bahwa defisit fiskal Indonesia berpotensi menembus 3% dari PDB di tahun 2025, yang dapat mendorong rasio utang terhadap PDB (debt-to-GDP ratio) ke atas 40%.

“Pernyataan dari tim Prabowo Gibran yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan rasio utang terhadap PDB semakin memicu kekhawatiran investor,” ujar Fithra.

Fithra memprediksi bahwa rupiah akan bergerak di level 16.100 hingga 16.400 per dolar AS hingga akhir Juni 2024. Untuk meredam pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan kembali melakukan intervensi pasar dan menaikkan suku bunga acuan.

“BI mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan minimal 25 basis poin untuk merespons pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas makro ekonomi,” pungkas Fithra.

Komentar